Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tiga Peperangan Besar dalam Riwayat Akhir Zaman

Pembahasan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian kaum Muslimin. Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ memberikan sejumlah kabar mengenai berbagai fitnah dan peristiwa yang akan terjadi menjelang datangnya hari Kiamat.

Di antara riwayat yang sering dibahas adalah mengenai peperangan besar yang berkaitan dengan akhir zaman. Beberapa hadis menyebut adanya Ghazwatul Hind, al-Malhamah al-Kubra, serta peperangan antara kaum Muslimin dan Yahudi. Namun, rincian waktu, tempat, urutan, dan siapa saja yang dimaksud dalam riwayat-riwayat tersebut tidak boleh ditentukan secara serampangan.

1. Ghazwatul Hind

Istilah Ghazwatul Hind merujuk pada riwayat yang menyebut adanya ekspedisi atau peperangan menuju wilayah yang disebut al-Hind.

Salah satu riwayat yang sering dijadikan rujukan terdapat dalam Sunan an-Nasa’i 3175. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa terdapat dua kelompok dari umat beliau yang mendapatkan perlindungan dari api neraka: kelompok yang melakukan ekspedisi ke Hind dan kelompok yang bersama Nabi Isa ‘alaihissalam.

Riwayat tentang Ghazwatul Hind memiliki beberapa jalur dengan penilaian hadis yang berbeda. Karena itu, pembahasannya perlu dilakukan secara hati-hati dan tidak langsung dikaitkan dengan negara, konflik, atau peperangan tertentu pada masa sekarang.

Yang terpenting, hadis tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk mengobarkan permusuhan kepada masyarakat atau bangsa tertentu. Pembahasan tentang tanda-tanda akhir zaman semestinya menjadi sarana mengambil pelajaran dan memperkuat iman.

2. Al-Malhamah al-Kubra

Peperangan besar lainnya dikenal dengan istilah al-Malhamah al-Kubra, yaitu peperangan besar yang disebut dalam sejumlah hadis tentang fitnah akhir zaman.

Salah satu riwayat dalam Sunan Abi Dawud menggambarkan rangkaian peristiwa yang menghubungkan kemakmuran Baitul Maqdis, kehancuran Madinah, terjadinya al-malhamah, pembukaan Konstantinopel, kemudian keluarnya Dajjal.

Ada pula riwayat yang menyebut jarak antara al-malhamah dan pembukaan kota tersebut selama enam tahun, kemudian Dajjal keluar pada tahun berikutnya. Riwayat ini tercantum antara lain dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Ibnu Majah.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pembahasan al-malhamah tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam konteks pembicaraan hadis mengenai berbagai fitnah besar menjelang keluarnya Dajjal.

Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati ketika menghubungkan konflik politik atau militer masa kini dengan hadis akhir zaman. Tidak setiap peperangan yang terjadi di dunia dapat langsung disebut sebagai al-Malhamah al-Kubra.

3. Peperangan Kaum Muslimin dengan Yahudi

Riwayat lainnya menyebut peperangan antara kaum Muslimin dan Yahudi sebagai salah satu peristiwa yang berkaitan dengan akhir zaman.

Dalam Shahih Muslim, terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Kiamat tidak akan terjadi hingga kaum Muslimin memerangi Yahudi. Hadis tersebut juga menggambarkan keadaan ketika orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon.

Hadis ini merupakan bagian dari riwayat tentang tanda-tanda Kiamat. Namun, kandungannya tidak seharusnya digunakan untuk membenarkan kebencian kepada seluruh orang Yahudi pada masa sekarang.

Perlu dibedakan antara riwayat eskatologis tentang suatu peristiwa pada akhir zaman dengan sikap terhadap individu atau kelompok tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Islam juga mengajarkan keadilan dan melarang seseorang melakukan kezaliman hanya berdasarkan identitas kelompok.

Pelajaran dari Riwayat Peperangan Akhir Zaman

Pembahasan tentang peperangan akhir zaman bukan semata-mata untuk membuat manusia takut. Ada pelajaran yang jauh lebih penting, yaitu mempersiapkan diri menghadapi berbagai fitnah.

Seorang Muslim tidak mengetahui kapan Kiamat akan terjadi. Karena itu, perhatian utama bukanlah menebak tahun, negara, atau konflik mana yang menjadi tanda tertentu, melainkan memperbaiki iman dan amal.

Beberapa sikap yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama, memperkuat akidah.
Berita tentang perkara gaib harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan hadis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, memperbanyak amal saleh.
Persiapan menghadapi akhir zaman bukan dengan sibuk menerka-nerka tanggal Kiamat, tetapi dengan memperbaiki shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbaiki akhlak.

Ketiga, tidak mudah percaya pada klaim akhir zaman.
Setiap konflik yang muncul tidak otomatis merupakan perang yang disebut dalam hadis. Diperlukan ilmu dan penjelasan ulama sebelum mengambil kesimpulan.

Keempat, menjauhi fitnah dan provokasi.
Informasi mengenai perang dan akhir zaman sangat mudah digunakan untuk membangkitkan ketakutan atau kebencian. Seorang Muslim hendaknya melakukan tabayun dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.

Kelima, memohon keteguhan iman.
Fitnah akhir zaman dalam berbagai hadis mengingatkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah agar tetap berada di atas kebenaran.

Penutup

Riwayat mengenai Ghazwatul Hind, al-Malhamah al-Kubra, dan peperangan kaum Muslimin dengan Yahudi merupakan bagian dari pembahasan tanda-tanda akhir zaman dalam literatur hadis. Masing-masing riwayat memiliki konteks dan pembahasan ilmiah tersendiri, sehingga tidak tepat jika seluruhnya disederhanakan menjadi ramalan mengenai konflik tertentu pada masa kini.

Yang lebih penting bagi seorang Muslim adalah mengambil ibrah dari kabar tersebut: dunia ini tidak kekal, berbagai fitnah akan terus muncul, dan manusia harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama: KontenIslam, “3 Perang Besar Akhir Zaman”, diperbarui 6 Januari 2024.