Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Tingkatan Hasad dalam Islam: Waspadai Penyakit Hati yang Merusak Amal

Hasad atau dengki merupakan penyakit hati yang dapat mengikis rasa syukur, merusak persaudaraan, dan membuat seseorang sulit menerima kebahagiaan orang lain. Karena itu, setiap Muslim perlu mengenali bentuk-bentuk hasad agar mampu menjaga hati dan memperbaiki akhlaknya.

Memahami Makna Hasad

Hasad adalah perasaan tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, terutama ketika muncul keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. Nikmat itu bisa berupa kekayaan, jabatan, kecerdasan, ilmu, keluarga yang harmonis, maupun keberhasilan dalam kehidupan.

Orang yang terjangkit hasad sering kali merasa gelisah ketika melihat orang lain memperoleh kebaikan. Alih-alih ikut bersyukur dan mendoakan, ia justru berharap kebahagiaan tersebut berakhir.

Padahal, setiap nikmat merupakan karunia Allah SWT yang diberikan menurut kehendak dan hikmah-Nya. Membandingkan kehidupan secara berlebihan hanya akan menumbuhkan kegelisahan dan menjauhkan hati dari rasa syukur.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa’: 32)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya memohon karunia Allah, bukan sibuk menginginkan nikmat orang lain berkurang.

Lima Tingkatan Hasad yang Perlu Diwaspadai

Dalam pembahasan akhlak Islam, hasad dapat dilihat dalam beberapa tingkatan, mulai dari keinginan buruk terhadap nikmat orang lain hingga keinginan meneladani kebaikan tanpa berharap nikmat tersebut hilang.

1. Berharap Nikmat Orang Lain Hilang

Ini merupakan bentuk hasad yang sangat tercela. Seseorang merasa tidak senang melihat keberhasilan orang lain dan berharap nikmat yang dimilikinya lenyap, meskipun ia sendiri tidak menginginkan nikmat tersebut.

Misalnya, seseorang merasa iri terhadap keberhasilan temannya dalam usaha. Ia bukan ingin membuka usaha yang lebih baik, melainkan berharap usaha temannya mengalami kebangkrutan.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar keinginan untuk maju, tetapi ketidaksukaan terhadap kebaikan yang diterima orang lain.

Seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa nikmat orang lain tidak mengurangi jatah rezeki yang Allah tetapkan untuk dirinya.

2. Menginginkan Nikmat Orang Lain Berpindah Kepadanya

Tingkatan berikutnya adalah berharap nikmat yang dimiliki orang lain hilang agar dirinya dapat menggantikannya.

Contohnya, seseorang menginginkan jabatan yang dipegang orang lain dengan berharap pemegang jabatan tersebut tersingkir melalui cara yang tidak benar. Ia tidak cukup hanya ingin meraih kedudukan, tetapi juga berharap orang lain kehilangan apa yang dimilikinya.

Keinginan seperti ini dapat mendorong seseorang melakukan tindakan tidak terpuji, seperti memfitnah, menjatuhkan reputasi, atau menghalangi keberhasilan orang lain.

Ambisi untuk berkembang sebenarnya tidak selalu salah. Yang perlu dihindari adalah keinginan meraih sesuatu dengan mengharapkan kehancuran orang lain.

3. Tidak Suka Melihat Orang Lain Berkembang

Ada pula orang yang tidak secara langsung menginginkan nikmat orang lain berpindah kepadanya, tetapi merasa senang jika orang lain tetap berada dalam keadaan sulit.

Ketika seseorang yang sebelumnya kurang mampu mulai berhasil, ia merasa tidak nyaman. Ketika orang yang dahulu dianggap biasa saja mendapatkan kesempatan belajar atau kedudukan yang lebih baik, ia justru berusaha meremehkannya.

Sikap ini dapat muncul dari kesombongan, persaingan yang tidak sehat, atau perasaan bahwa dirinya harus selalu lebih unggul.

Padahal, keberhasilan orang lain seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Tidak ada alasan untuk merendahkan seseorang hanya karena kehidupannya mulai membaik.

4. Ingin Setara, tetapi Tidak Rela Jika Orang Lain Lebih Unggul

Pada tingkatan ini, seseorang sebenarnya ingin memiliki keadaan yang sama baiknya dengan orang lain. Selama keduanya setara, ia merasa tenang.

Namun, ketika orang lain memperoleh kelebihan, perasaan iri mulai muncul. Ia kemudian berharap kelebihan tersebut hilang agar tidak ada lagi perbedaan di antara mereka.

Misalnya, dua orang rekan kerja memiliki penghasilan yang hampir sama. Salah satunya mendapatkan promosi, tetapi rekannya justru berharap promosi tersebut dibatalkan.

Keinginan untuk memperbaiki keadaan diri bukanlah sesuatu yang tercela. Yang menjadi masalah adalah ketika kemajuan orang lain dianggap sebagai ancaman dan harus dihentikan.

Islam mengajarkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan menjatuhkan orang lain demi mempertahankan posisi.

5. Ingin Memperoleh Kebaikan Serupa Tanpa Mengharapkan Nikmat Orang Lain Hilang

Bentuk terakhir ini berbeda dari hasad yang tercela. Dalam istilah ulama, sikap tersebut dikenal sebagai ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan kebaikan serupa dengan yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat orang tersebut berkurang.

Misalnya, seseorang melihat temannya rajin bersedekah dari hasil usaha yang halal. Ia pun terinspirasi untuk bekerja lebih giat agar mampu membantu lebih banyak orang.

Contoh lainnya, seorang penuntut ilmu melihat orang lain memiliki pemahaman agama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Ia kemudian terdorong untuk belajar lebih sungguh-sungguh agar bisa memberikan manfaat serupa.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keinginan seperti ini dibenarkan dalam dua perkara utama, yaitu terhadap orang yang dikaruniai harta lalu membelanjakannya di jalan kebenaran dan orang yang diberi ilmu atau hikmah lalu mengamalkannya serta mengajarkannya.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, melihat kebaikan orang lain seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk membencinya.

Bagaimana Cara Menjaga Hati dari Hasad?

Setelah mengenali tingkatan hasad, langkah berikutnya adalah berusaha membersihkan hati. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memperbanyak rasa syukur.
Biasakan memperhatikan nikmat yang telah Allah berikan, sekecil apa pun. Syukur membantu seseorang melihat kehidupannya secara lebih utuh tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

2. Mendoakan kebaikan bagi orang lain.
Ketika melihat seseorang memperoleh keberhasilan, berusahalah mendoakan keberkahan baginya. Latihan ini dapat membantu mengubah rasa iri menjadi ketulusan.

3. Mengubah perbandingan menjadi motivasi.
Jika orang lain lebih unggul dalam ilmu, pekerjaan, atau amal kebaikan, jadikan hal tersebut sebagai inspirasi untuk belajar dan berusaha.

4. Mengingat bahwa rezeki setiap orang berbeda.
Tidak semua orang mendapatkan nikmat dalam bentuk dan waktu yang sama. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang halal, berdoa, dan menerima ketetapan Allah dengan lapang dada.

5. Memperbaiki hubungan dengan sesama.
Jauhi kebiasaan meremehkan, menyebarkan keburukan, atau mencari-cari kesalahan orang lain karena iri. Jika muncul perasaan dengki, segera evaluasi diri dan jangan membiarkannya berkembang menjadi tindakan yang merugikan.

Penutup: Jangan Biarkan Dengki Menguasai Hati

Hasad dapat tumbuh secara perlahan, bahkan ketika seseorang merasa dirinya tidak memiliki masalah dengan orang lain. Perasaan tidak suka terhadap keberhasilan orang lain yang terus dipelihara dapat berubah menjadi kebencian, permusuhan, dan tindakan yang merusak persaudaraan.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri untuk bersyukur, menjaga prasangka, serta ikut bergembira atas kebaikan yang diterima saudaranya.

Apabila melihat orang lain memperoleh nikmat, jangan terburu-buru bertanya mengapa ia mendapatkan lebih banyak. Lebih baik bertanya kepada diri sendiri: apa yang bisa saya pelajari, ikhtiarkan, dan perbaiki?

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari hasad, menumbuhkan rasa syukur, dan menjadikan kita pribadi yang senang melihat kebaikan tersebar di tengah masyarakat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber rujukan: Muhammad Abduh Tuasikal, “Tingkatan Hasad, Waspadalah!”, Rumaysho.