Bulughul Maram : Mencari Ridha Orang Tua, Jalan Meraih Ridha Allah
Berbakti kepada orang tua merupakan amalan mulia yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Di balik doa yang mereka panjatkan, nasihat yang mereka sampaikan, dan pengorbanan yang sering kali tidak terlihat, terdapat hak besar yang wajib ditunaikan oleh setiap anak.
Islam mengajarkan bahwa hubungan seorang anak dengan orang tuanya bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan juga bagian penting dari ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, menghormati, menyayangi, dan membahagiakan orang tua harus menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari.
Ridha Orang Tua dan Ridha Allah
Dalam pembahasan Kitabul Jaami’ dari kitab Bulughul Maram, karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, terdapat hadis yang menjelaskan kedudukan ridha orang tua.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.”
(HR. Tirmidzi, no. 1899; dinilai hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir sebagaimana dikutip dalam sumber.)
Hadis tersebut memberikan pelajaran penting bahwa berbakti kepada orang tua bukan perkara sepele. Kerelaan hati mereka yang diperoleh melalui kebaikan dan ketaatan yang dibenarkan syariat menjadi salah satu jalan untuk meraih ridha Allah.
Sebaliknya, menyakiti hati orang tua, bersikap kasar, atau mengabaikan hak-hak mereka merupakan perilaku yang harus dijauhi.
Namun, mencari ridha orang tua bukan berarti menaati semua permintaan tanpa batas. Apabila orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah, seorang anak tidak boleh mengikuti perintah tersebut. Meski demikian, ia tetap berkewajiban memperlakukan mereka dengan baik dan penuh hormat.
Empat Cara Meraih Ridha Orang Tua
1. Memenuhi Permintaan Mereka dalam Kebaikan
Salah satu wujud bakti kepada orang tua adalah berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Terkadang, kebahagiaan orang tua tidak berasal dari pemberian yang mahal. Perhatian sederhana, kesediaan membantu pekerjaan rumah, menemani mereka berbincang, atau meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka bisa menjadi kebahagiaan tersendiri.
Seorang anak hendaknya tidak hanya sibuk mengejar cita-cita pribadi, tetapi juga menyadari bahwa orang tuanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Ketika permintaan mereka dapat dipenuhi dengan cara yang baik, janganlah mudah menolak hanya karena merasa sibuk atau menganggapnya sebagai perkara kecil.
2. Menjaga Perasaan dan Tidak Menyakiti Hati Mereka
Berbakti kepada orang tua juga berarti menjaga ucapan dan tindakan agar tidak melukai perasaan mereka.
Ucapan kasar, bentakan, ekspresi merendahkan, maupun sikap tidak peduli dapat meninggalkan luka di hati orang tua. Terlebih ketika mereka telah memasuki usia lanjut dan membutuhkan perhatian yang lebih besar.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 23:
“... Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Ayat ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang tua harus diwujudkan melalui tutur kata yang santun dan perlakuan yang lembut.
Jika terjadi perbedaan pendapat, sampaikanlah dengan tenang. Jangan menjadikan emosi sebagai alasan untuk berkata kasar atau mempermalukan mereka.
3. Membiasakan Akhlak Mulia di Hadapan Orang Tua
Kesalehan seorang anak tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari caranya memperlakukan orang tua.
Mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, mendengarkan nasihat, membantu ketika dibutuhkan, serta tidak bersikap sombong merupakan bagian dari akhlak yang patut dibiasakan.
Rasulullah ﷺ pernah mengarahkan seseorang yang ingin berjihad agar memperhatikan kedua orang tuanya yang masih hidup. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau memerintahkannya untuk kembali dan berbuat baik kepada keduanya.
Peristiwa tersebut menunjukkan betapa besar kedudukan bakti kepada orang tua. Ibadah dan perjuangan di jalan Allah harus dijalankan dengan memperhatikan kewajiban lain yang telah ditetapkan syariat.
Oleh karena itu, jangan sampai seseorang terlihat baik di hadapan masyarakat, tetapi justru bersikap kasar kepada ayah dan ibunya sendiri.
4. Mendahulukan Kewajiban kepada Orang Tua daripada Amalan Sunah yang Berbenturan
Seorang Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah sunah. Akan tetapi, amalan sunah tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban berbakti kepada orang tua.
Apabila orang tua memanggil dan membutuhkan bantuan, sementara seorang anak sedang melakukan amalan sunah yang memungkinkan untuk dihentikan, ia perlu mempertimbangkan kebutuhan orang tuanya dengan sungguh-sungguh.
Kisah Juraij yang disebutkan dalam hadis menjadi pelajaran tentang pentingnya memperhatikan panggilan ibu ketika sedang beribadah sunah.
Pelajaran yang dapat diambil bukanlah meremehkan ibadah, melainkan memahami bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam beramal. Jangan sampai seseorang begitu bersemangat mengejar amalan tambahan, tetapi melalaikan hak orang tua yang harus ditunaikan.
Berbakti Tidak Berhenti Ketika Kita Sudah Dewasa
Ketika masih kecil, kita membutuhkan orang tua untuk memenuhi hampir seluruh kebutuhan hidup. Setelah dewasa, sebagian orang mulai sibuk dengan pekerjaan, rumah tangga, pendidikan, dan berbagai tanggung jawab lainnya.
Kesibukan tersebut terkadang membuat perhatian kepada orang tua semakin berkurang. Telepon yang jarang dijawab, kunjungan yang terus ditunda, atau percakapan yang selalu terburu-buru dapat membuat mereka merasa dilupakan.
Padahal, kebutuhan orang tua tidak selalu berupa uang atau barang. Mereka juga membutuhkan perhatian, teman berbicara, penghargaan, dan kepastian bahwa anak-anaknya tetap menyayangi mereka.
Bagi yang tinggal berjauhan, menjaga komunikasi dan menanyakan kabar secara rutin merupakan salah satu bentuk perhatian. Bagi yang masih tinggal bersama, membantu kebutuhan sehari-hari dan menjaga suasana rumah tetap nyaman adalah wujud bakti yang nyata.
Apabila orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbuat baik kepada mereka melalui doa, memohonkan ampunan kepada Allah, memenuhi wasiat yang dibenarkan syariat, serta menjaga silaturahmi dengan kerabat mereka.
Jangan Menunggu Kaya untuk Membahagiakan Orang Tua
Sebagian orang beranggapan bahwa membahagiakan orang tua harus menunggu memiliki penghasilan besar atau kehidupan yang mapan. Padahal, kesempatan berbakti terbuka setiap hari, bahkan melalui tindakan sederhana.
Senyum yang tulus, ucapan terima kasih, kesediaan membantu, dan perhatian yang konsisten memiliki arti besar. Jangan sampai keinginan memberikan sesuatu yang mewah membuat kita melupakan kebaikan kecil yang sebenarnya dapat dilakukan sekarang.
Jika masih memiliki kesempatan untuk menemui mereka, gunakan waktu tersebut sebaik-baiknya. Jika masih dapat mendengar suara mereka, jawablah dengan santun. Jika mereka membutuhkan pertolongan, bantulah sesuai kemampuan.
Waktu bersama orang tua tidak berlangsung selamanya. Karena itu, jangan menunda kebaikan hingga kesempatan tersebut hilang.
Penutup
Mencari ridha orang tua merupakan bagian penting dari perjalanan seorang Muslim dalam meraih ridha Allah SWT. Bakti itu diwujudkan melalui ketaatan dalam perkara yang baik, tutur kata yang santun, sikap penuh kasih sayang, dan kesediaan memenuhi hak-hak mereka.
Berbakti bukan hanya tentang memberikan harta, tetapi juga menghadirkan ketenangan, penghormatan, dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka.
Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang saleh dan salehah, yang mampu membalas kebaikan orang tua dengan bakti terbaik, serta mengaruniakan kepada kita kesempatan untuk terus berbuat baik selama mereka masih hidup.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber rujukan : Rumaysho – Bulughul Maram: Akhlak Mencari Ridha Orang Tua
