Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Untuk Pesantrenku

Oleh: R. Mukti

22 Oktober adalah hari yang bersejarah bagi santri. Pada tanggal itu di tahun 1945, para kiai dan santri menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangatnya tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjadi perlawanan nyata. Setiap Hari Santri, pesan yang paling sering kita dengar adalah peran santri untuk negeri.

Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita, yaitu pesantren itu sendiri. Pesantren adalah tempat para santri ditempa. Kamar-kamar, majelis, dan mushalla menjadi saksi bisu lahirnya semangat yang kelak bergema sebagai Resolusi Jihad.

Tulisan ini tidak akan mengulang cerita sejarah yang sudah sering kita dengar di upacara. Mari kita bercermin: bagaimana pesantren bisa benar-benar menjadi tempat yang dipenuhi cahaya ilmu dan semangat juang?

Di tengah teknologi yang berkembang pesat, pesantren dituntut terus berbenah tanpa kehilangan jati dirinya. Pesantren harus melahirkan generasi berakhlak mulia sekaligus penggerak peradaban. Santri juga harus melek teknologi. Pesantren tidak boleh bersikap apatis, apalagi menolak semua kemajuan zaman.

Sejarah memberi kita pelajaran. Para ulama kita dahulu bukan hanya ahli agama. Mereka juga menguasai kedokteran, fisika, kimia, astronomi, hingga filsafat. Pemikiran mereka menjadi pijakan ilmu pengetahuan sampai hari ini. Itulah masa keemasan Islam (golden age) pada era Dinasti Abbasiyah. Artinya, ilmu agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah bertentangan di rumah kita sendiri.

Hari ini pesantren adalah kekuatan yang sangat besar. Jumlahnya lebih dari 42 ribu di seluruh Indonesia, dengan santri yang mencapai jutaan orang. Banyak di antara mereka berasal dari keluarga sederhana, dan pesantren tetap berjalan dengan semangat kemandirian. Besarnya peran ini juga menuntut tanggung jawab yang besar.

Menjawab pemberitaan yang menyakitkan

Kita juga harus jujur mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir pesantren sering muncul di pemberitaan dengan kabar yang tidak menyenangkan: kasus kekerasan dan perundungan terhadap santri, bangunan yang ambruk, hingga tayangan media yang menyudutkan kehidupan pesantren. Berita seperti ini mengiris hati siapa pun yang mencintai pesantren.

Tetapi kita perlu menjawabnya dengan adil. Pesantren bukan tempat kekerasan. Wajah asli pesantren adalah wajah yang kita kenal: kiai yang sabar membimbing, santri yang belajar adab, dan suasana kekeluargaan yang tumbuh di antara mereka. Ribuan pesantren berjalan dengan baik tanpa pernah masuk berita. Sebagian kecil kasus tidak boleh menghapus jasa besar yang sudah ditorehkan pesantren selama ratusan tahun.

Meski begitu, kita juga tidak boleh membela diri dengan menutup mata. Setiap kasus, sekecil apa pun, adalah pengingat bahwa ada yang perlu dibenahi. Mengakui kekurangan bukan berarti merendahkan pesantren. Itu justru tanda cinta, sebab kita ingin pesantren menjadi lebih baik.

Pesantren yang kita impikan

Pembenahan itu bisa dimulai dari beberapa hal.

Pertama, pesantren yang humanis. Rasa hormat kepada guru dan kiai adalah ciri khas pesantren, tetapi hormat tidak boleh dibangun dengan rasa takut. Santri perlu dididik dengan keteladanan, kasih sayang, dan kesabaran, bukan dengan kekerasan. Rasulullah saw. sendiri mendidik dengan kelembutan.

Kedua, pesantren yang ramah anak. Sebagian besar santri adalah anak-anak yang jauh dari orang tua. Pesantren adalah rumah kedua mereka, jadi harus menjadi tempat yang paling aman. Itu berarti ada aturan yang jelas untuk mencegah kekerasan dan pelecehan, ada tempat yang aman untuk melapor, ada pendamping yang mau mendengar, dan bangunan serta fasilitas yang layak dan aman.

Ketiga, pesantren yang membentuk mental pejuang. Ketangguhan sejati lahir dari kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan bangkit saat gagal, bukan dari rasa takut. Santri yang bahagia dan merasa dihargai akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani bermimpi besar.

Keempat, pesantren yang terus belajar. Pengelolaan pesantren perlu diperbarui terus-menerus: kurikulum yang menyiapkan santri menghadapi zaman, guru yang dibekali ilmu pendidikan, dan tata kelola yang terbuka. Perhatian negara juga semakin besar. Pada Hari Santri 2025, pemerintah menyetujui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Ini peluang besar yang harus kita sambut dengan kesungguhan dari dalam pesantren sendiri.

Penutup

Wahai pesantrenku, engkau pernah melahirkan para pejuang yang mengubah sejarah bangsa. Hari ini kami, para santrimu, ingin engkau kembali menjadi tempat terbaik untuk tumbuh: tempat ilmu bersinar, akhlak terjaga, dan setiap anak merasa aman dan dihargai. Dari sana akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berhati lembut dan berjiwa pejuang.

Jika pesantren terus berbenah tanpa meninggalkan akarnya, kita punya alasan kuat untuk yakin bahwa pesantren akan menjadi peradaban pendidikan terbaik, sebagaimana para pendahulu kita pernah mencontohkannya.

Selamat Hari Santri. Dari pesantren, untuk Indonesia.