4 Permata dalam Diri Manusia yang Harus Selalu Dijaga
Manusia merupakan makhluk yang istimewa di antara seluruh ciptaan Allah Swt. Dengan segala kelebihan yang diberikan—seperti akal, syahwat, dan hawa nafsu—manusia berada dalam posisi yang dinamis: bisa tunduk pada Allah, mengikuti hawa nafsu, atau sekadar mengejar kepuasan jasmani. Allah Swt berfirman dalam Surat At-Tiin ayat 4 bahwa manusia diciptakan “dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ( لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ). Hal ini menunjukkan keistimewaan manusia dibanding makhluk lain seperti malaikat, hewan, atau setan.
Sebagai makhluk terbaik, manusia dikaruniai empat “permata” berharga dalam dirinya—empat aspek penting yang menjadi identitas sekaligus kekuatan spiritual dan moral. Keempat permata ini disebutkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang dikutip dalam Ihya’ Ulumiddin:
“Ada empat permata dalam tubuh manusia yang dapat hilang karena empat hal.Permata-permata itu adalah akal, agama, sifat malu, dan amal saleh.”
1. Akal: Pemimpin dalam Diri Manusia
Akal merupakan modal utama yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Akal memungkinkan seseorang untuk memahami perintah dan larangan Allah, membedakan antara hak dan batil, serta menilai mana yang baik atau buruk bagi kehidupan. Tanpa akal, seseorang tidak mampu memahami ajaran agama secara benar dan tidak akan mampu menata kehidupannya dengan baik. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nashaihul Ibad menyebutkan bahwa akal adalah “permata ruhani ciptaan Allah yang berada dalam jasad manusia untuk mengetahui sesuatu yang hak dan batil.”
Namun, akal bisa hilang atau rusak jika manusia dikuasai emosi, khususnya marah (ghadab) yang berlebihan. Emosi marah dapat menutupi pertimbangan dan menghalangi manusia berpikir jernih sehingga kehilangan fungsi akal itu sendiri.
2. Agama: Pedoman Hidup yang Lurus
Agama berfungsi sebagai aturan dan pedoman hidup yang lurus (hanif). Dengan agama, akal manusia diarahkan untuk menerima hal-hal yang baik, layak, dan tepat. Agama menjadi landasan untuk mengendalikan syahwat dan hawa nafsu agar hidup tertata dalam kerangka ketakwaan kepada Allah.
Namun, agama bisa hilang akibat sifat iri dan dengki (hasud) yang menutupi hati. Hasud dapat menghancurkan keyakinan seseorang terhadap ajaran agama dan membuatnya terjerumus dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
3. Sifat Malu: Benteng Kehormatan Diri
Malu merupakan karakter yang dikembangkan oleh agama untuk mengendalikan perilaku manusia. Ada dua macam rasa malu:
-
Haya’un nafsiyun – rasa malu dasar manusia (misalnya menjaga aurat),
-
Haya’un imaniyun – rasa malu karena iman yang mencegah diri dari maksiat karena takut kepada Allah.
Sifat malu inilah yang membedakan manusia dari hewan dan setan, karena ia mampu mengendalikan dorongan hawa nafsu demi kehormatan dan ketaatan kepada Allah. Sayangnya, rasa malu bisa hilang jika seseorang menjadi terlalu serakah (thama’) sehingga hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri tanpa mempertimbangkan kehormatan atau nilai moral lainnya.
4. Amal Saleh: Buah Nyata dari Keimanan
Amal saleh adalah tindakan perbuatan baik yang sesuai dengan ajaran agama. Ia merupakan hasil dari akal yang sehat, agama yang diimani, serta sifat malu yang efektif mengendalikan hawa nafsu. Tanpa amal saleh, kemampuan memahami agama atau keimanan seseorang tidak menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan.
Namun, amal saleh dapat hilang jika seseorang terjebak dalam perbuatan menggunjing (ghibah) atau aktivitas yang merusak kehormatan lain. Ghibah menodai hati dan menghilangkan hasil pahala dari perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
Penutup: Menjaga Permata Diri untuk Menjadi Insan Bertakwa
Keempat permata itu—akal, agama, sifat malu, dan amal saleh—adalah anugerah Allah yang sangat berharga sekaligus ujian. Jika dijaga dengan baik, ia akan menuntun manusia menjadi pribadi yang beradab, bermanfaat, dan bertakwa kepada Allah Swt. Namun, jika dikabaikan, keempatnya dapat hilang bahkan membawa kerusakan pada diri sendiri dan orang lain.
Semoga kita mampu menjaga keempat permata tersebut sehingga kehidupan kita tidak hanya baik di dunia tetapi juga berbuah kebahagiaan di akhirat kelak.
