Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

7 Perbuatan yang Tidak Berdosa Namun Dibenci oleh Allah

Dalam ajaran Islam, hukum perbuatan manusia tidak hanya terbagi antara dosa dan pahala. Ada perbuatan yang tidak berdosa secara hukum, namun dibenci oleh Allah karena dampaknya yang merusak nilai-nilai kebaikan, melemahkan iman, atau menghilangkan keberkahan hidup. Perbuatan semacam ini umumnya termasuk dalam kategori makruh—tidak berdosa jika dilakukan, namun berpahala jika ditinggalkan.

Memahami hal ini penting agar seorang muslim tidak hanya berorientasi pada “tidak berdosa”, tetapi juga berusaha meraih ridha dan cinta Allah.


1. Perceraian (Talak)

Perceraian adalah contoh paling masyhur dari perbuatan halal namun dibenci Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak.”
(HR. Abu Dawud)

Talak diperbolehkan sebagai jalan terakhir ketika rumah tangga tidak dapat dipertahankan. Namun Allah membencinya karena perceraian sering membawa dampak besar: luka batin, keretakan keluarga, dan penderitaan anak-anak. Islam mendorong musyawarah, kesabaran, dan perbaikan sebelum memilih jalan ini.


2. Banyak Bicara Tanpa Manfaat

Berbicara adalah perkara mubah. Namun terlalu banyak bicara, apalagi tanpa nilai kebaikan, dapat mengeraskan hati dan menjauhkan dari zikir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian banyak bicara tanpa zikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa zikir dapat mengeraskan hati.”
(HR. Tirmidzi)

Islam mengajarkan keseimbangan antara berbicara dan diam. Diam yang menjaga diri lebih dicintai Allah daripada kata-kata yang sia-sia.


3. Tidur Setelah Subuh Tanpa Keperluan

Tidur bukanlah dosa, namun tidur setelah Subuh tanpa uzur termasuk perbuatan yang tidak disukai karena menghilangkan keberkahan waktu pagi.

Rasulullah ﷺ mendoakan:

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
(HR. Tirmidzi)

Waktu pagi adalah saat turunnya keberkahan, rezeki, dan semangat. Mengisinya dengan tidur tanpa kebutuhan berarti menyia-nyiakan peluang besar.


4. Makan dan Minum Berlebihan

Makan dan minum adalah kebutuhan dasar manusia. Namun Islam melarang sikap berlebihan (israf).

Allah berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)

Berlebihan dalam makan bukan hanya merugikan kesehatan, tetapi juga melemahkan ibadah, mematikan kepekaan sosial, dan menumbuhkan sifat lalai.


5. Bercanda Secara Berlebihan

Bercanda pada dasarnya dibolehkan, bahkan Rasulullah ﷺ pun sesekali bercanda. Namun bercanda yang berlebihan dapat menghilangkan wibawa, melukai perasaan orang lain, atau menjadikan seseorang meremehkan kebenaran.

Islam mengajarkan agar setiap perkataan tetap berada dalam koridor adab dan tanggung jawab.


6. Menunda-Nunda Kebaikan

Menunda amal saleh bukan dosa secara langsung, namun sangat disayangkan dan dibenci karena menghilangkan keutamaan.

Kebaikan yang ditunda sering kali berakhir tidak dilakukan. Padahal umur dan kesempatan tidak pernah dijamin panjang. Seorang mukmin dianjurkan bersegera dalam kebaikan selama mampu.


7. Bersikap Keras dalam Perkara yang Seharusnya Lembut

Ketegasan memang diperlukan, tetapi kekerasan tanpa hikmah justru dibenci Allah. Kelembutan adalah sifat yang sangat dicintai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara.”
(HR. Muslim)

Dakwah, pendidikan, dan hubungan sosial akan lebih efektif dengan kelembutan dibanding kekerasan.

Perbuatan yang tidak berdosa namun dibenci oleh Allah mengajarkan kita satu hal penting: standar hidup seorang muslim bukan sekadar halal atau tidak berdosa, tetapi sejauh mana perbuatan itu mendatangkan ridha Allah.

Meninggalkan hal-hal yang dibenci Allah, meskipun tidak berdosa, adalah tanda ketakwaan, kehati-hatian (wara’), dan keinginan untuk menjadi hamba yang lebih dicintai-Nya.

Semoga Allah membimbing kita untuk memilih bukan hanya yang boleh, tetapi yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin.