Muhasabah Diri : 6 Pertanyaan Imam Al-Ghazali
Enam Pertanyaan Al-Ghazali
Cermin Muhasabah Diri Sepanjang Hayat
Imam Al-Ghazali rahimahullah dikenal sebagai ulama besar yang tidak hanya menguasai ilmu fikih dan tasawuf, tetapi juga sangat menekankan pentingnya muhasabah diri. Salah satu nasihat beliau yang masyhur adalah tentang enam pertanyaan penting yang seharusnya selalu direnungkan oleh setiap manusia sebelum datangnya kematian.
Enam pertanyaan ini bukan sekadar renungan, melainkan peringatan lembut agar hidup tidak berlalu tanpa makna.
1. Apa yang Telah Engkau Persiapkan untuk Akhiratmu?
Pertanyaan ini mendorong kita untuk bertanya pada diri sendiri:
Sudahkah shalat kita terjaga?Sudahkah kita memperbaiki niat dalam beramal?
2. Untuk Apa Umurmu Dihabiskan?
-
Apakah waktu kita lebih banyak dihabiskan untuk kebaikan?
-
Ataukah habis dalam kelalaian dan kesia-siaan?
Orang yang beruntung adalah mereka yang mengisi umur dengan amal yang mendekatkan diri kepada Allah.
3. Dari Mana Hartamu Diperoleh?
-
Apakah harta kita didapat dengan cara halal?
-
Apakah ada hak orang lain di dalamnya?
Harta yang halal membawa keberkahan, sedangkan yang haram menjadi penghalang diterimanya doa dan ibadah.
4. Ke Mana Hartamu Dibelanjakan?
-
Digunakan untuk kebaikan dan sedekah?
-
Atau justru untuk maksiat dan pemborosan?
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk harta.
5. Apa yang Telah Engkau Amalkan dari Ilmumu?
Apakah ilmu yang kita miliki benar-benar diamalkan?Ataukah hanya menjadi kebanggaan semata?
Ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya, sedangkan ilmu yang ditinggalkan justru bisa menjadi hujjah yang memberatkan.
6. Bagaimana Hubunganmu dengan Sesama Manusia?
-
Apakah kita menjaga lisan?
-
Apakah kita menyakiti orang lain?
-
Apakah kita mudah memaafkan?
Hubungan dengan manusia (ḥablum minannās) tidak kalah penting dari hubungan dengan Allah (ḥablum minallāh).
Penutup: Bekal Menuju Kehidupan Abadi
Enam pertanyaan Al-Ghazali ini sejatinya adalah alarm kesadaran bagi setiap muslim. Ia mengajak kita untuk tidak menunda taubat, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas hidup sebelum ajal menjemput.
“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
