Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi : Jangan Kau Cela Penyakitmu

Dalam hidup, tidak ada seorang pun yang benar-benar terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan persoalan keluarga, dan ada pula yang diuji dengan sakit dan penyakit. Namun sering kali, ketika sakit datang, yang pertama keluar dari lisan kita adalah keluhan, bahkan celaan terhadap keadaan yang Allah tetapkan.

Padahal, dalam pandangan iman, penyakit bukanlah sekadar penderitaan fisik. Ia adalah bagian dari takdir yang menyimpan rahasia kebaikan.

Penyakit Bukan Tanda Kebencian

Banyak orang mengira bahwa sakit adalah tanda Allah tidak sayang. Padahal, dalam ajaran Islam, justru orang-orang yang dicintai Allah sering kali diuji. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ujian paling berat dialami para nabi, kemudian orang-orang shalih, lalu yang semisalnya.

Lihatlah kisah Nabi Ayyub. Beliau diuji dengan penyakit yang sangat lama. Tubuhnya lemah, hartanya habis, bahkan keluarganya menjauh. Namun tidak satu pun keluhan keluar dari lisannya. Tidak ada celaan kepada takdir. Yang ada hanyalah doa penuh adab dan ketundukan:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Doa itu diabadikan dalam Al-Qur’an, dan menjadi bukti bahwa kesabaran dalam sakit akan berbuah pertolongan.

Mengapa Kita Tidak Boleh Mencela Penyakit?

Mencela penyakit sama saja dengan mencela ketetapan Allah. Sakit tidak datang tanpa izin-Nya. Setiap rasa nyeri, setiap detik demam, setiap lemah yang kita rasakan, semuanya tercatat dan tidak sia-sia.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.

Artinya, sakit adalah alat penggugur dosa.

Bukankah kita memiliki banyak dosa yang tak terhitung? Mungkin justru melalui sakitlah Allah sedang membersihkan jiwa kita, mengangkat derajat kita, atau menyelamatkan kita dari hukuman di akhirat.

Sakit Mengajarkan Rendah Hati

Ketika sehat, manusia sering lupa diri. Tubuh yang kuat membuat kita merasa mampu melakukan apa saja. Harta yang cukup membuat kita merasa aman. Namun ketika sakit datang, kita sadar bahwa tubuh ini rapuh.

Sakit memaksa kita untuk berhenti.
Sakit membuat kita kembali mengingat Allah.
Sakit mengajarkan bahwa kita hanyalah hamba yang lemah.

Dalam kondisi sakit, doa terasa lebih tulus. Air mata lebih mudah jatuh. Hati lebih lembut. Bukankah ini tanda bahwa sakit bisa menjadi pintu kedekatan dengan Allah?

Sakit Adalah Waktu Introspeksi

Ada kalanya Allah “menghentikan” aktivitas kita melalui sakit agar kita mau merenung. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia. Mungkin kita jarang bersyukur atas nikmat sehat. Mungkin kita kurang menjaga amanah tubuh.

Sakit memberi ruang untuk berpikir:

  • Sudahkah aku memanfaatkan sehatku untuk kebaikan?

  • Sudahkah aku bersyukur?

  • Sudahkah aku mendekat kepada Allah?

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan agar kita memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, salah satunya adalah sehat sebelum sakit. Artinya, sakit mengajarkan nilai mahalnya kesehatan.

Jangan Ucapkan Kata-Kata Buruk

Sering tanpa sadar kita berkata:
“Kenapa aku yang sakit?”
“Kenapa tidak orang lain saja?”
“Aku capek dengan keadaan ini.”

Ucapan seperti ini bukan hanya menunjukkan keluh kesah, tetapi bisa menjadi bentuk ketidakridhaan terhadap takdir. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Lebih baik kita mengganti keluhan dengan doa:
“Ya Allah, jadikan sakit ini penggugur dosaku.”
“Ya Allah, angkat derajatku melalui ujian ini.”
“Ya Allah, berikan kesembuhan yang membawa keberkahan.”

Sakit Bisa Menjadi Jalan Surga

Ada orang yang selama hidupnya biasa-biasa saja dalam ibadah. Namun karena kesabarannya saat sakit, Allah mengangkat derajatnya. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika seorang hamba sakit, Allah tetap mencatat pahala amal yang biasa ia lakukan saat sehat.

Bayangkan, meski terbaring lemah, pahala tetap mengalir.

Bukankah ini rahmat yang luar biasa?

Belajar Ridha dan Sabar

Ridha bukan berarti tidak merasa sakit. Ridha adalah menerima dengan hati yang lapang, tanpa menyalahkan Allah. Sabar bukan berarti tidak berusaha berobat. Sabar adalah tetap taat dan tidak berputus asa.

Berobatlah.
Ikhtiarlah.
Jaga pola hidup.
Namun jangan lupa, kesembuhan datang dari Allah.

Penutup: Lihat dengan Mata Iman

Jangan kamu cela penyakitmu.

Boleh jadi sakit itu yang menyelamatkanmu dari kesombongan.
Boleh jadi sakit itu yang menghapus dosa-dosamu.
Boleh jadi sakit itu yang membuatmu lebih dekat kepada Allah.
Boleh jadi sakit itu jalanmu menuju derajat yang lebih tinggi.

Jika hari ini engkau sedang sakit, ingatlah bahwa Allah tidak pernah salah memilihkan ujian. Setiap rasa nyeri memiliki makna. Setiap air mata memiliki nilai. Dan setiap kesabaran akan berbuah pahala.

Semoga Allah menjadikan sakit kita sebagai rahmat, bukan laknat. Menjadikannya sebagai penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penguat iman.

Aamiin.