Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Sosok Margaret Aliyatul Maimunah: Pejuang Perempuan & Cucu Pendiri NU yang Kini Berpulang

Telah berpulang ke rahmatullah Hj Margaret Aliyatul Maimunah, seorang tokoh perempuan inspiratif yang dikenal luas sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) masa khidmat 2022–2027. Kabar duka ini diumumkan pada Minggu, 1 Maret 2026, di mana ia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, meninggalkan suami dan seorang anak.

Latar Belakang & Pendidikan

Margaret, yang akrab disapa Ning Liya, lahir pada 11 Mei 1979 dalam keluarga pesantren. Ia merupakan putri dari KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah, serta cucu dari KH M Bisri Syansuri, salah satu tokoh pendiri NU yang terkenal sebagai ahli fikih.

Sejak kecil, Liya menempuh pendidikan di Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, mulai dari tingkat MI hingga MAN. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Ampel Surabaya (kini UIN Sunan Ampel Surabaya) dan kemudian meraih gelar pascasarjana di Universitas Indonesia pada Program Studi Kajian Wanita.

Perjalanan Organisasi yang Panjang

Minat Liya terhadap aktivitas sosial dan organisasi sudah tampak sejak masa sekolah. Di bangku kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, terutama di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Kemampuannya membawa dia ke posisi penting, seperti Ketua KOPRI PMII Putri dan Ketua Umum PP IPPNU periode 2009–2012.

Perjalanan organisasi Liya kemudian berkembang bersama Fatayat NU, organisasi perempuan muda di bawah naungan NU. Ia sempat menjadi Wakil Koordinator Bidang Ekonomi dan Sekretaris Umum PP Fatayat NU sebelum terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU 2022–2027 dalam Kongres ke-16 di Palembang.

Dedikasi pada Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Margaret Aliyatul Maimunah dikenal sebagai sosok pejuang bagi perempuan dan anak. Fokusnya pada isu-isu pemberdayaan dan perlindungan bukan sekadar teori — ia terlibat langsung melalui berbagai penelitian, publikasi, dan aktivitas profesional. Setelah menyelesaikan studinya, Liya bergabung dengan Women Research Institute, melakukan penelitian mengenai kehidupan perempuan dan anak dalam berbagai konteks sosial.

Ia juga aktif menulis artikel dan buku yang membahas hak-hak perempuan, seperti artikel tentang perlindungan maternal pekerja perempuan dan buku Perempuan Berdaya Nusantara Jaya: Landasan Advokasi Pemberdayaan Perempuan.

Pengalaman Profesional & Kontribusi Publik

Selain kiprahnya di ranah organisasi, Liya juga berkontribusi dalam pemerintahan sebagai tenaga ahli di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Ia pernah menjadi tenaga ahli untuk sejumlah komisi DPR yang membidangi isu agama, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan serta anak.

Tak hanya itu, ia sesekali berbagi pengetahuan sebagai pengajar di Universitas Indonesia, khususnya pada Program Studi Kajian Wanita, dengan fokus pada metodologi feminis dan pengalaman penelitian perempuan.

Warisan dan Penghormatan

Kepergian Margaret meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar NU dan masyarakat luas yang mengenalnya sebagai sosok yang kuat, cerdas, dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan perempuan serta perlindungan anak. Kiprah hidupnya memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berjuang demi keadilan dan kesejahteraan.

Semoga segala amal dan baktinya diterima di sisi Allah SWT dan menjadi teladan bagi kita semua. Amin.