Ketika Ilmu Tanpa Adab: Pelajaran yang Bisa Hilang Tanpa Bekas
Ilmu seharusnya membawa seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, ilmu yang tidak disertai adab dapat kehilangan arah dan bahkan berpotensi menjadi sumber kerusakan.
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar membuat seseorang menjadi pintar. Lebih dari itu, pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab, serta kemampuan menggunakan ilmunya untuk kebaikan.
Namun, kehidupan menunjukkan bahwa orang yang memiliki pendidikan tinggi tidak selalu memiliki perilaku yang baik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai bentuk kejahatan dengan cara yang semakin canggih.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan dan keterampilan saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan adab agar dapat memberikan manfaat.
Ilmu Tanpa Adab Kehilangan Arah
Dalam tradisi pendidikan Islam, proses mencari ilmu tidak hanya berbicara mengenai seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan. Ada sikap dan tata cara yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu.
Syekh Az-Zarnuji, dalam Ta'limul Muta'allim, mengingatkan bahwa seseorang dapat terhalang memperoleh manfaat ilmu apabila salah dalam menempuh jalan untuk mendapatkannya dan mengabaikan syarat-syaratnya.
Dengan kata lain, keberhasilan belajar tidak cukup diukur dari nilai, gelar, atau ijazah. Ilmu seharusnya terlihat dalam sikap dan perilaku seseorang.
Seseorang mungkin memiliki pengetahuan luas, tetapi jika ilmu tersebut tidak membentuk akhlaknya, maka tujuan pendidikan belum sepenuhnya tercapai.
Adab Menjadi Penjaga Ilmu
Adab dapat dipahami sebagai pengetahuan dan sikap yang membantu seseorang menjaga dirinya dari kesalahan. Karena itu, adab bukan sekadar sopan santun dalam pergaulan, melainkan bagian penting dari pembentukan kepribadian.
Dalam Islam, adab memiliki cakupan yang luas. Ada adab kepada Allah SWT, kepada Rasulullah ﷺ, kepada orang tua, guru, ulama, saudara, tetangga, teman, dan kepada sesama manusia.
Adab kepada Allah, misalnya, diwujudkan dengan mengenali nikmat-Nya dan mensyukurinya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Allah harus dibangun di atas kesadaran, rasa syukur, dan pengakuan terhadap segala karunia-Nya.
Adab Membentuk Hati Sebelum Ilmu Berkembang
Ilmu ibarat benih yang membutuhkan tempat tumbuh yang baik. Hati manusia adalah salah satu tempat utama bagi tumbuhnya ilmu dan hidayah.
Jika hati dibersihkan melalui adab, ilmu akan lebih mudah mengantarkan seseorang kepada kebaikan. Sebaliknya, jika ilmu masuk ke dalam diri tanpa dibarengi pembentukan akhlak, pengetahuan tersebut dapat kehilangan manfaatnya.
Karena itu, seorang penuntut ilmu perlu belajar menghormati guru, menjaga ucapan, menghargai orang lain, bersikap rendah hati, serta mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.
Ilmu bukan hanya sesuatu yang disimpan di dalam pikiran. Ilmu seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Meremehkan Adab Bisa Menjauhkan dari Kebaikan
Para ulama sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap persoalan adab.
Imam Abdullah bin Mubarak memberikan sebuah peringatan yang sangat mendalam: meremehkan adab dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan melakukan amalan-amalan sunnah. Jika sunnah terus diremehkan, seseorang dapat semakin jauh dari amalan wajib. Dan ketika kewajiban mulai ditinggalkan, seseorang dapat semakin jauh dari pengenalan kepada Allah.
Pesan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara adab, amal, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Ketika seseorang terbiasa meremehkan perkara yang dianggap kecil, lama-kelamaan kepekaan terhadap kesalahan dapat berkurang. Sesuatu yang awalnya terasa tidak pantas bisa menjadi kebiasaan, kemudian berkembang menjadi perilaku yang lebih besar.
Karena itu, menjaga adab bukan perkara sepele.
Kepandaian Harus Berjalan Bersama Akhlak
Kita tentu menginginkan generasi yang cerdas, terampil, menguasai teknologi, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Namun, semua kemampuan tersebut perlu dibarengi dengan akhlak dan ketakwaan.
Bayangkan jika kecerdasan yang tinggi tidak disertai kejujuran. Teknologi yang maju tidak disertai tanggung jawab. Pengetahuan yang luas tidak dibarengi rasa takut kepada Allah.
Ilmu yang seharusnya menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan justru dapat digunakan untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Karena itu, pendidikan Islam tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan juga bertujuan membentuk hati dan perilaku agar ilmu yang dimiliki benar-benar memberikan manfaat.
Belajar Bukan Sekadar Mengejar Gelar
Gelar akademik, sertifikat, maupun ijazah merupakan bagian dari perjalanan pendidikan. Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir.
Tujuan yang lebih penting adalah bagaimana ilmu tersebut membuat seseorang semakin mengenal Allah, semakin baik akhlaknya, semakin bermanfaat bagi orang lain, serta semakin bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Seorang yang berilmu seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin banyak mengetahui kebenaran, seharusnya semakin berhati-hati dalam bertindak.
Sebab, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa jauh ilmu tersebut membentuk diri dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Penutup
Adab adalah fondasi penting dalam perjalanan mencari ilmu. Tanpa adab, pengetahuan dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan lebih dekat dengan tujuan utamanya: membawa manusia kepada kebaikan dan kemanfaatan.
Maka, jangan sampai kesibukan mengejar ilmu membuat kita lupa belajar menjadi manusia yang beradab.
Belajarlah untuk mengetahui, beradablah agar ilmu menjadi berkah, dan amalkan ilmu agar manfaatnya dirasakan oleh sesama.
Wallahu a'lam bish-shawab.
