Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi : Memulai Segala Sesuatu dengan Ilmu

Dalam kehidupan seorang Muslim, ilmu bukan sekadar pelengkap. Ilmu menjadi bekal penting agar seseorang mampu memahami kebenaran, menentukan sikap, dan menjalankan amal dengan tepat. Karena itu, banyak ulama sejak dahulu menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang harus didahulukan sebelum seseorang berbicara maupun beramal.

Allah SWT berfirman:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”
(QS. Muhammad: 19)

Ayat tersebut menarik untuk direnungkan. Perintah untuk mengetahui keesaan Allah disebutkan sebelum perintah memohon ampun. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki posisi penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Islam Mengajarkan Pentingnya Ilmu

Islam tidak memandang agama hanya sebatas ritual ibadah. Islam memberikan panduan yang luas tentang kehidupan manusia, mulai dari hubungan manusia dengan Allah, hubungan antarsesama, hingga bagaimana seseorang menjalani kehidupan di dunia sebagai bekal menuju akhirat.

Karena itu, memahami Islam membutuhkan ilmu. Seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki semangat beragama, tetapi juga perlu mengetahui dasar, tujuan, dan tata cara dari setiap amal yang dilakukannya.

Wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ bahkan diawali dengan perintah “Iqra’”, yang secara umum bermakna membaca atau mempelajari. Surah Al-'Alaq ayat 1–5 juga menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang mengajarkan manusia melalui pena dan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui.

Pesan tersebut memberikan pelajaran bahwa perjalanan membangun kehidupan yang baik semestinya dimulai dengan belajar.

Ilmu Mendahului Perkataan dan Perbuatan

Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap kedudukan ilmu. Dalam karya Imam al-Bukhari, pembahasan mengenai ilmu ditempatkan secara khusus dan terdapat prinsip bahwa ilmu harus mendahului perkataan serta perbuatan.

Maknanya sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang perlu mengetahui terlebih dahulu sebelum berbicara. Ia perlu memahami sebelum mengambil keputusan. Ia juga perlu mempelajari tata cara yang benar sebelum melakukan suatu ibadah.

Semangat seperti inilah yang membuat tradisi keilmuan Islam berkembang begitu kuat. Ilmu tidak berhenti pada aktivitas membaca atau menghafal, tetapi harus melahirkan pemahaman dan amal yang benar.

Semangat Generasi Awal dalam Menuntut Ilmu

Para sahabat Rasulullah ﷺ merupakan contoh nyata bagaimana ilmu dijaga dan dipelajari dengan penuh kesungguhan.

Berbagai perkataan, perbuatan, keputusan, bahkan gambaran tentang kehidupan Rasulullah ﷺ diriwayatkan dan dijaga dengan sangat teliti. Dari tradisi tersebut kemudian lahirlah khazanah ilmu Islam yang sangat luas, termasuk ilmu hadis dan berbagai disiplin keislaman lainnya.

Ketelitian para sahabat dalam menjaga Sunnah menunjukkan bahwa ilmu membutuhkan kesungguhan, ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab.

Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh generasi setelahnya. Para ulama rela melakukan perjalanan jauh, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar, menghafal, meneliti, dan mengajarkan ilmu kepada generasi berikutnya.

Semua itu menjadi pelajaran bahwa ilmu tidak diperoleh hanya dengan keinginan, tetapi membutuhkan proses dan kesungguhan.

Ilmu Menjadi Jalan Menuju Takwa

Ilmu yang benar seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

Syekh az-Zarnuji menjelaskan bahwa kemuliaan ilmu berkaitan dengan perannya sebagai jalan menuju ketakwaan. Seseorang tidak mungkin menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak ia ketahui.

Karena itu, semakin seseorang memahami apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang-Nya, seharusnya semakin berhati-hati pula ia dalam menjalani kehidupan.

Ilmu membuat seseorang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan yang haram, serta antara amal yang sesuai tuntunan dan amal yang hanya didasarkan pada perasaan atau kebiasaan.

Dengan demikian, ilmu bukan sekadar membuat seseorang tahu, tetapi semestinya membuatnya lebih mampu menjaga diri.

Ilmu Harus Melahirkan Hidayah

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hidayah merupakan salah satu buah dari ilmu. Artinya, ilmu yang dicari seorang Muslim seharusnya mengantarkan dirinya kepada petunjuk Allah.

Karena itu, niat dalam menuntut ilmu perlu diperhatikan.

Jangan sampai ilmu hanya digunakan untuk mendapatkan kedudukan, popularitas, kekayaan, atau pujian manusia. Sebab, ilmu yang tidak disertai keikhlasan dan amal dapat berubah menjadi sesuatu yang justru menjauhkan seseorang dari tujuan utama.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuat hati semakin tunduk kepada Allah, akhlak semakin baik, ibadah semakin benar, dan kepedulian kepada sesama semakin tumbuh.

Jangan Berhenti pada Pengetahuan

Ada perbedaan antara orang yang memiliki banyak informasi dengan orang yang benar-benar memiliki ilmu yang bermanfaat.

Informasi dapat membuat seseorang mengetahui banyak hal. Namun, ilmu yang benar semestinya membimbing seseorang untuk bersikap dan bertindak dengan benar.

Karena itu, setelah memperoleh ilmu, langkah berikutnya adalah mengamalkannya.

Mengetahui pentingnya kejujuran harus mendorong seseorang untuk jujur. Mengetahui kewajiban shalat harus membuat seseorang menjaga shalatnya. Mengetahui larangan ghibah harus membuat seseorang berusaha menjaga lisannya.

Di sinilah ilmu menemukan maknanya: ketika pengetahuan berubah menjadi amal dan amal tersebut membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

Memulai Kehidupan dengan Ilmu

Setiap aktivitas membutuhkan persiapan. Demikian pula perjalanan seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya.

Sebelum melakukan sesuatu, hendaknya kita bertanya: Apakah saya sudah mengetahui bagaimana tuntunan Islam terhadap perkara ini?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi kebiasaan yang sangat berharga.

Belajar sebelum beramal akan membantu kita terhindar dari kesalahan. Belajar sebelum berbicara membuat kita lebih berhati-hati. Belajar sebelum mengambil keputusan membuat langkah kita lebih terarah.

Karena itu, mari membangun kebiasaan untuk selalu belajar. Membaca Al-Qur'an, mempelajari hadis, menghadiri majelis ilmu, membaca karya ulama, bertanya kepada orang yang berilmu, dan terus memperbaiki pemahaman agama adalah bagian dari perjalanan seorang Muslim.

Sebab, amal yang baik membutuhkan ilmu, dan ilmu yang bermanfaat semestinya melahirkan amal.

Pada akhirnya, memulai segala sesuatu dengan ilmu bukan hanya tentang menjadi orang yang banyak mengetahui. Lebih dari itu, ilmu adalah bekal agar kita dapat mengenal Allah, memperbaiki diri, menjalankan ibadah dengan benar, serta menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tunduk kepada kebenaran, serta kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ditulis ulang dan dikembangkan berdasarkan gagasan artikel “Memulai Semua dengan Ilmu” karya Ust. Alimin Mukhtar,