Muru’ah dan Meneguhkan Empat Pilar di Dalamnya
Muru’ah merupakan salah satu konsep penting dalam pembentukan akhlak seorang Muslim. Ia bukan sekadar tentang bagaimana seseorang terlihat baik di hadapan manusia, tetapi bagaimana ia menjaga kehormatan diri dengan membiasakan kebaikan dan meninggalkan berbagai perilaku yang dapat merusak kemuliaan akhlaknya.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap akhlak. Rasulullah ﷺ bahkan menjelaskan bahwa salah satu tujuan diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Karena begitu luasnya bentuk akhlak yang baik, diperlukan sebuah prinsip yang dapat menghimpun berbagai kebaikan tersebut. Salah satunya adalah muru’ah.
Memahami Makna Muru’ah
Secara umum, muru’ah dapat dipahami sebagai sikap menjaga kehormatan dan kemuliaan diri melalui perilaku yang baik serta menjauhi segala sesuatu yang dapat mencemari pribadi.
Dengan demikian, muru’ah tidak hanya berkaitan dengan satu jenis akhlak. Di dalamnya terdapat berbagai sikap terpuji, seperti kejujuran, kesopanan, kepedulian, kerendahan hati, kedermawanan, menjaga lisan, dan ketekunan dalam beribadah.
Para ulama memiliki berbagai penjelasan mengenai muru’ah. Namun, benang merahnya adalah bahwa muru’ah sangat erat kaitannya dengan akhlak mulia dan usaha menjaga kehormatan diri sebagai seorang Muslim.
Empat Pilar yang Menegakkan Muru’ah
Imam asy-Syafi’i sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan al-Baihaqi menyebutkan empat hal yang menjadi pilar muru’ah, yaitu akhlak yang baik, kedermawanan, tawadhu’, dan ketekunan dalam beribadah.
Keempatnya saling berkaitan dan dapat menjadi fondasi dalam membentuk pribadi Muslim yang mulia.
1. Membiasakan Akhlak yang Baik
Pilar pertama adalah membangun kebiasaan berperilaku baik.
Akhlak bukan hanya sesuatu yang dilakukan sesekali. Akhlak yang baik perlu dilatih hingga menjadi kebiasaan dan karakter. Cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, menggunakan waktunya, menjaga amanah, hingga bersikap ketika tidak ada orang yang melihat, semuanya menjadi bagian dari pembentukan akhlak.
Kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus akan melahirkan kebiasaan baik lainnya. Sebaliknya, keburukan yang dibiarkan juga dapat membuka jalan bagi keburukan berikutnya.
Karena itu, menjaga muru’ah dimulai dari hal-hal sederhana: berkata jujur, menjaga lisan, menghormati orang lain, memenuhi janji, serta membiasakan diri melakukan kebaikan.
2. Menumbuhkan Sifat Dermawan
Pilar kedua adalah kedermawanan.
Dermawan bukan semata-mata tentang memberikan harta dalam jumlah besar. Kedermawanan juga dapat diwujudkan melalui kesediaan berbagi, membantu orang yang membutuhkan, memberikan waktu, ilmu, tenaga, maupun perhatian.
Sikap dermawan mengajarkan seseorang untuk tidak terjebak dalam ego dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia mengenai kecenderungan jiwa untuk bersikap kikir. Karena itu, melatih diri untuk berbagi merupakan bagian dari perjuangan melawan sifat egois dan cinta berlebihan terhadap kepentingan pribadi.
Orang yang mampu mengalahkan kekikiran dan mau memberikan manfaat kepada sesama memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
3. Membiasakan Tawadhu’
Pilar ketiga adalah tawadhu’, yaitu rendah hati.
Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri atau merasa tidak memiliki kelebihan. Tawadhu’ adalah menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki pada hakikatnya merupakan karunia Allah.
Kesombongan justru dapat menjadi pintu berbagai keburukan. Kisah Iblis yang menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam menjadi pelajaran penting tentang bahaya kesombongan. Iblis merasa dirinya lebih tinggi karena membandingkan asal penciptaannya dengan Adam.
Sebaliknya, sikap rendah hati membuat seseorang lebih mudah menerima nasihat, melakukan introspeksi, menghormati orang lain, serta berlomba dalam kebaikan.
Orang yang tawadhu’ tidak sibuk mencari-cari kekurangan orang lain. Ia lebih banyak memperhatikan kekurangan dirinya dan berusaha memperbaikinya.
4. Tekun dalam Beribadah
Pilar keempat adalah ketekunan dalam beribadah.
Akhlak yang baik membutuhkan hati yang terhubung dengan Allah. Karena itu, kesalehan tidak cukup hanya ditampilkan melalui hubungan sosial, tetapi juga harus dibangun melalui kedekatan kepada Allah SWT.
Ibadah menjadi sarana untuk menjaga hati agar tetap berada dalam kebaikan. Shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, puasa, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya membantu seorang Muslim membangun keteguhan jiwa.
Ketekunan dalam beribadah juga melatih kesabaran dan membentuk istiqamah. Seseorang tidak hanya melakukan kebaikan ketika sedang bersemangat, tetapi berusaha mempertahankannya secara konsisten.
Muru’ah dan Kehormatan Seorang Muslim
Keempat pilar tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri.
Akhlak yang baik mendorong seseorang untuk berbuat manfaat. Kedermawanan mengikis sifat egois dan kikir. Tawadhu’ menjauhkan hati dari kesombongan. Sementara ibadah menjaga hubungan manusia dengan Allah sekaligus memperkuat keteguhan dalam menjalani kebaikan.
Jika keempatnya tumbuh bersama, seorang Muslim akan memiliki kepribadian yang lebih kokoh. Ia tidak hanya berusaha terlihat baik di hadapan manusia, tetapi juga menjaga dirinya ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.
Inilah salah satu makna penting muru’ah: menjaga kemuliaan diri dengan terus memilih kebaikan, meninggalkan keburukan, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Menjaga Muru’ah dalam Kehidupan Sehari-hari
Muru’ah dapat dimulai dari perkara sederhana.
Menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain, menghormati orang tua dan guru, menyayangi yang lebih muda, tidak meremehkan orang lain, bersedia membantu sesama, tidak berlebihan dalam mengejar dunia, serta menjaga ibadah merupakan bagian dari usaha meneguhkan muru’ah.
Kita juga perlu melakukan muhasabah secara rutin. Sudahkah ilmu yang kita miliki memperbaiki akhlak? Sudahkah ibadah membuat hati semakin rendah hati? Sudahkah rezeki yang Allah berikan mendorong kita untuk berbagi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar kebaikan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi benar-benar berubah menjadi karakter.
Penutup
Muru’ah merupakan cermin kemuliaan pribadi seorang Muslim. Ia tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten dan dijaga dengan ketulusan.
Empat pilarnya—akhlak yang baik, kedermawanan, tawadhu’, dan ketekunan dalam beribadah—dapat menjadi pedoman dalam membangun pribadi yang terhormat, bermanfaat bagi sesama, serta dekat dengan Allah SWT.
Pada akhirnya, kemuliaan seseorang bukan hanya diukur dari apa yang ia miliki atau bagaimana ia dipandang manusia. Kemuliaan juga tercermin dari bagaimana ia menjaga hati, perilaku, hubungan dengan sesama, dan kedekatannya kepada Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga muru’ah, memperindah akhlak, serta istiqamah dalam kebaikan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
