Refleksi : Tetaplah Adil Meski Hati Sedang Diliputi Kebencian
Kebencian dapat membuat seseorang kehilangan kejernihan dalam menilai. Karena itu, Islam mengajarkan agar rasa tidak suka kepada seseorang atau suatu kelompok tidak menjadi alasan untuk berlaku zalim dan meninggalkan keadilan.
Setiap manusia tentu pernah merasakan berbagai macam emosi. Ada kalanya hati dipenuhi rasa cinta, tetapi ada pula saat seseorang merasa kecewa, marah, bahkan membenci orang lain.
Persoalannya bukan sekadar apakah kita boleh memiliki rasa tidak suka. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengendalikan perasaan tersebut agar tidak mendorong kita melakukan sesuatu yang melampaui batas.
Sebab, ketika kebencian sudah menguasai hati, seseorang bisa kehilangan objektivitas. Kesalahan kecil dari orang yang tidak disukainya terlihat sangat besar, sementara kebaikannya seolah tidak pernah ada.
Sebaliknya, rasa cinta yang berlebihan juga dapat membuat seseorang menutup mata terhadap kesalahan.
Keadilan Tidak Boleh Bergantung pada Perasaan
Islam memberikan tuntunan yang sangat jelas bahwa keadilan harus tetap ditegakkan, bahkan terhadap orang yang tidak kita sukai.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 8:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa ukuran keadilan bukanlah perasaan pribadi. Seseorang tidak boleh mengurangi hak orang lain hanya karena memiliki persoalan, perbedaan, atau rasa tidak suka kepadanya.
Keadilan justru menjadi ujian ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak kita senangi.
Jika kepada orang yang kita cintai kita mampu bersikap baik, itu merupakan sesuatu yang relatif mudah. Namun, tetap memberikan hak dan penilaian yang proporsional kepada orang yang kita benci membutuhkan pengendalian diri dan ketakwaan.
Jangan Membalas Keburukan dengan Kezaliman
Salah satu bahaya kebencian adalah munculnya keinginan untuk membalas.
Ketika merasa disakiti, seseorang terkadang berpikir bahwa membalas perlakuan buruk merupakan sesuatu yang wajar. Padahal, membalas kesalahan dengan tindakan yang lebih zalim hanya akan memperpanjang persoalan.
Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-Maidah ayat 2 agar kebencian kepada suatu kaum tidak membuat seseorang terdorong melakukan tindakan melampaui batas.
Pesan ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan keadilan hanya kepada orang yang kita sukai. Keadilan berlaku secara luas, termasuk kepada mereka yang berbeda pandangan dengan kita.
Belajar dari Peristiwa Hudaibiyah
Salah satu pelajaran penting dapat ditemukan dalam peristiwa Hudaibiyah.
Ketika itu, kaum Muslimin mengalami situasi yang tidak menyenangkan karena dihalangi untuk memasuki Makkah. Dalam kondisi seperti itu, sangat mungkin muncul keinginan untuk membalas perlakuan tersebut.
Namun, Allah memberikan petunjuk agar rasa tidak suka tidak berubah menjadi tindakan yang melampaui batas.
Dari peristiwa tersebut kita belajar bahwa pengalaman buruk yang kita terima tidak otomatis memberikan izin kepada kita untuk berbuat buruk kepada pihak lain.
Perasaan boleh terluka, tetapi prinsip tetap harus dijaga.
Berhati-Hati dengan Informasi di Media Sosial
Tantangan menjaga keadilan semakin besar di zaman sekarang.
Informasi dapat tersebar hanya dalam hitungan detik. Sebuah pesan, potongan video, gambar, atau tulisan dapat dengan mudah diteruskan kepada banyak orang sebelum kebenarannya diperiksa.
Ketika informasi tersebut berkaitan dengan seseorang yang memang sudah tidak kita sukai, kita akan lebih mudah mempercayainya tanpa melakukan tabayyun.
Di sinilah pentingnya menahan diri.
Jangan sampai rasa marah membuat kita langsung membagikan berita yang belum jelas. Jangan sampai kebencian menyebabkan kita ikut menyebarkan fitnah, tuduhan, atau informasi yang ternyata tidak benar.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 21 tentang larangan mengikuti langkah-langkah setan yang dapat membawa manusia kepada perbuatan keji dan kemungkaran.
Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Jangan Mudah Terprovokasi
Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat singkat tetapi mendalam kepada seseorang yang meminta wasiat.
Beliau bersabda:
“Janganlah engkau marah.”
Nasihat tersebut diulang beberapa kali sebagai penegasan pentingnya mengendalikan amarah. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Marah yang tidak dikendalikan dapat menghilangkan pertimbangan yang sehat. Dalam keadaan emosi, seseorang bisa mengucapkan perkataan yang menyakitkan, mengambil keputusan secara gegabah, atau melakukan sesuatu yang kemudian disesalinya.
Karena itu, ketika menghadapi persoalan, berhenti sejenak sebelum bertindak adalah bagian dari kebijaksanaan.
Tidak semua informasi harus segera ditanggapi. Tidak semua provokasi harus dilayani. Dan tidak setiap perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.
Adil Adalah Jalan Menuju Takwa
Keadilan bukan hanya persoalan hubungan sosial, tetapi juga bagian dari ketakwaan.
Allah SWT menegaskan bahwa berlaku adil lebih dekat kepada takwa. Artinya, kemampuan seseorang untuk tetap objektif ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukainya merupakan salah satu bentuk pengendalian diri karena Allah.
Kita mungkin tidak menyukai seseorang.
Kita boleh berbeda pendapat.
Kita boleh mengkritik sebuah kesalahan.
Namun, semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar. Jangan sampai kritik berubah menjadi fitnah. Jangan sampai perbedaan berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai rasa kecewa membuat kita mengambil hak orang lain.
Belajar Menilai dengan Jernih
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerapkan prinsip ini dengan beberapa langkah sederhana:
Penutup
Kebencian adalah ujian bagi hati. Ia dapat membuat seseorang melihat segala sesuatu secara tidak proporsional. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga hati dan perilakunya agar rasa tidak suka tidak menyeret kepada tindakan yang zalim.
Kita tidak harus menyukai semua orang. Namun, kita tetap memiliki kewajiban untuk berlaku adil.
Jangan biarkan kebencian membuat kita kehilangan akhlak. Jangan pula membiarkan kemarahan menjadikan kita mudah percaya kepada kabar yang belum jelas.
Tetaplah tenang, tabayyun, kendalikan emosi, dan tegakkan keadilan.
Sebab, keadilan bukan hanya untuk orang yang kita cintai, tetapi juga untuk mereka yang tidak kita sukai. Dan berlaku adil adalah sikap yang lebih dekat kepada ketakwaan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sumber inspirasi: “Tetaplah Bersikap Adil Meskipun Sedang Benci”, Ust. Alimin Mukhtar, 11 Mei 2024.
