Refleksi : Ketidaktahuan Tujuan Hidup Awal dari Kesia-siaan
Setiap perjalanan membutuhkan arah. Seseorang yang hendak menuju sebuah tempat tentu harus mengetahui ke mana ia akan pergi. Tanpa tujuan yang jelas, perjalanan mudah berubah menjadi sekadar aktivitas tanpa makna.
Begitu pula dengan kehidupan. Manusia menjalani begitu banyak aktivitas setiap hari: bekerja, belajar, mencari nafkah, membangun keluarga, bersosialisasi, hingga mengejar berbagai cita-cita. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa semua itu dilakukan?
Pertanyaan tersebut penting karena seseorang yang tidak memahami tujuan hidup akan lebih mudah menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Tujuan Menentukan Arah Perjalanan
Bayangkan seseorang hendak mendaki gunung. Ia tentu tidak akan membawa seluruh barang yang dimilikinya. Peralatan yang dibawa akan disesuaikan dengan medan dan tujuan perjalanan.
Ia akan memilih perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan, sebab membawa terlalu banyak barang hanya akan menambah beban.
Demikian pula dalam kehidupan. Ketika seseorang mengetahui tujuan yang hendak dicapai, ia akan lebih mudah menentukan mana yang penting dan mana yang harus ditinggalkan.
Sebaliknya, ketika tujuan hidup tidak jelas, seseorang bisa saja menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hartanya untuk berbagai hal yang tidak memiliki hubungan dengan tujuan kehidupannya.
Karena itu, memahami tujuan hidup merupakan langkah awal untuk menjalani kehidupan secara lebih terarah.
Ketidaktahuan Bisa Melahirkan Kesia-siaan
Banyak waktu yang sebenarnya berharga justru berlalu tanpa disadari. Seseorang dapat menghabiskan berjam-jam untuk hiburan, percakapan yang tidak bermanfaat, mengikuti sesuatu yang tidak perlu, atau terus mengejar kesenangan sesaat.
Bukan berarti setiap hiburan atau aktivitas duniawi selalu salah. Namun, seorang Muslim perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang mubah, dan sesuatu yang justru menjauhkan dirinya dari kebaikan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.
Pesan ini mengajarkan pentingnya mengelola waktu dan perhatian. Tidak semua hal yang menarik harus diikuti. Tidak semua yang sedang populer harus diketahui. Dan tidak semua kesempatan harus digunakan untuk sesuatu yang tidak memiliki manfaat.
Memahami Tujuan Penciptaan Manusia
Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia bukanlah sebuah perjalanan tanpa arah. Allah SWT menjelaskan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan dasar penting dalam memahami kehidupan seorang Muslim. Ibadah tidak hanya berkaitan dengan ritual tertentu, tetapi juga menjadi orientasi dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan.
Belajar dapat menjadi ibadah. Bekerja mencari nafkah yang halal dapat menjadi ibadah. Mengurus keluarga dapat menjadi ibadah. Membantu sesama juga dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar berapa banyak aktivitas yang kita lakukan, tetapi juga ke mana aktivitas tersebut mengantarkan kita.
Bukan Banyak Aktivitas, tetapi Seberapa Bermakna
Kesibukan terkadang membuat seseorang merasa dirinya sedang melakukan sesuatu yang penting. Padahal, banyak aktivitas belum tentu berarti banyak manfaat.
Seseorang dapat memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi jika sebagian besar waktunya habis untuk perkara yang tidak memberikan manfaat, maka kesibukan tersebut perlu dievaluasi.
Sebaliknya, aktivitas yang sederhana bisa menjadi sangat bernilai apabila dilakukan dengan tujuan yang benar.
Seorang ayah yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menafkahi keluarganya, misalnya, bukan sekadar menjalankan pekerjaan. Jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal, aktivitas tersebut memiliki nilai ibadah.
Begitu pula seorang pelajar yang belajar dengan tekun. Ia tidak sekadar mengejar nilai, tetapi dapat meniatkan ilmunya agar kelak bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan agama.
Ilmu Agama Membantu Menentukan Prioritas
Untuk mengetahui mana yang benar-benar bermanfaat, seorang Muslim membutuhkan ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.
Pemahaman agama membantu seseorang memiliki ukuran dalam menjalani kehidupan. Ia tidak hanya bertanya, “Apakah saya menyukai ini?”, tetapi juga bertanya, “Apakah ini diridhai Allah? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini mendekatkan saya kepada tujuan hidup?”
Pertanyaan semacam ini dapat menjadi pengingat ketika seseorang harus menentukan pilihan.
Ilmu juga membuat seseorang lebih mampu mengatur waktu, menjaga pergaulan, menggunakan harta, memanfaatkan teknologi, serta menentukan aktivitas yang layak mendapatkan perhatian.
Dunia Bukan Tujuan Akhir
Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Islam justru mengajarkan agar kehidupan dunia digunakan sebagai sarana menuju kehidupan akhirat.
Harta diperlukan, tetapi jangan sampai harta menjadi tujuan utama kehidupan.
Pekerjaan penting, tetapi jangan sampai pekerjaan membuat seseorang melupakan kewajibannya kepada Allah.
Pendidikan sangat penting, tetapi ilmu yang dimiliki semestinya membawa seseorang kepada kebaikan dan kemanfaatan.
Popularitas, jabatan, fasilitas, dan berbagai pencapaian duniawi juga bukan ukuran akhir keberhasilan manusia.
Semua itu akan memiliki nilai ketika ditempatkan pada posisi yang benar: sebagai sarana untuk menjalankan amanah dan beribadah kepada Allah SWT.
Mari Mengevaluasi Perjalanan Hidup
Kesadaran tentang tujuan hidup seharusnya mendorong kita untuk melakukan muhasabah.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Ke mana sebagian besar waktu saya digunakan?
Apakah aktivitas saya memberikan manfaat?
Apakah kesibukan saya mendekatkan diri kepada Allah?
Apakah pekerjaan dan ilmu yang saya miliki membawa manfaat bagi orang lain?
Apa yang selama ini sebenarnya hanya membuang waktu?
Apa yang perlu saya kurangi dan apa yang harus saya tingkatkan?
Muhasabah bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas masa lalu. Muhasabah adalah kesempatan untuk memperbaiki arah sebelum perjalanan semakin jauh.
Sebab, waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali. Yang dapat dilakukan adalah menjadikan waktu yang tersisa lebih bernilai.
Jangan Sampai Hidup Berlalu Tanpa Arah
Kehidupan adalah amanah. Setiap hari yang berlalu sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan.
Karena itu, memahami tujuan hidup merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang Muslim. Dengan tujuan yang jelas, kita dapat menentukan prioritas, memilih aktivitas yang bermanfaat, dan meninggalkan perkara yang tidak memiliki nilai.
Jangan sampai kehidupan dipenuhi kesibukan, tetapi kosong dari keberkahan. Jangan sampai banyak hal yang berhasil dikumpulkan, tetapi sedikit yang menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang peka terhadap kebaikan, serta kemampuan untuk menggunakan waktu, tenaga, ilmu, dan seluruh nikmat yang diberikan-Nya di jalan yang diridhai.
Sebab, hidup bukan sekadar tentang seberapa lama kita berjalan, tetapi tentang ke mana langkah itu diarahkan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
