Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa dan Amalan Ketika Dipuji Orang Lain agar Terhindar dari Sifat Sombong

Pujian merupakan sesuatu yang menyenangkan hati. Namun, seorang Muslim perlu berhati-hati agar sanjungan manusia tidak menumbuhkan kesombongan, rasa bangga terhadap diri sendiri, atau keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mendapatkan pujian karena prestasi, ilmu, kebaikan, pekerjaan, maupun ibadah yang dilakukan. Pujian tersebut tidak selalu buruk. Akan tetapi, apabila tidak disikapi dengan bijak, pujian dapat membuat seseorang lupa bahwa segala kebaikan yang dimilikinya merupakan karunia Allah SWT.

Islam mengajarkan agar seorang Muslim senantiasa menjaga keikhlasan dan merendahkan hati. Salah satu caranya adalah dengan mengingat kekurangan diri serta memanjatkan doa ketika mendapatkan pujian.

1. Jangan Terlena dengan Pujian Manusia

Pujian terkadang membuat seseorang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia mulai menikmati sanjungan, merasa hebat, bahkan menganggap keberhasilan yang diraih semata-mata berasal dari kemampuan dirinya sendiri.

Sikap seperti ini perlu diwaspadai karena dapat menumbuhkan sifat ujub, yaitu perasaan kagum terhadap diri sendiri, dan kesombongan yang dapat merusak kualitas amal.

Para ulama mengingatkan bahwa orang yang memberikan pujian biasanya hanya mengetahui apa yang tampak dari diri kita. Mereka belum tentu mengetahui kekurangan, kelemahan, dan perjuangan yang tersembunyi.

Karena itu, jangan menjadikan pujian manusia sebagai ukuran utama untuk menilai diri sendiri. Sebaliknya, jadikan pujian sebagai pengingat agar kita semakin bersyukur dan memperbaiki kualitas diri.

2. Ingatlah Bahwa Allah Maha Mengetahui Keadaan Kita

Ketika seseorang memuji kita, boleh jadi ia hanya melihat sisi baik yang tampak di hadapannya. Sementara itu, Allah SWT mengetahui seluruh keadaan kita, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menyikapi sanjungan. Kita tidak perlu merasa paling baik hanya karena mendapatkan penilaian positif dari orang lain.

Bisa jadi, masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Masih ada kewajiban yang belum ditunaikan dengan sempurna dan amal yang belum sepenuhnya ikhlas.

Dengan menyadari hal tersebut, seorang Muslim akan lebih mudah menjaga tawadhu atau kerendahan hati. Ia tidak menjadikan pujian sebagai alasan untuk berhenti berbenah, tetapi sebagai dorongan untuk terus meningkatkan ketakwaan.

3. Membaca Doa Ketika Mendapatkan Pujian

Salah satu amalan yang disebutkan dalam literatur para ulama adalah doa yang dinukil dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu ketika mendapatkan pujian.

Berikut doa yang dapat dibaca ketika seseorang menyanjung kita.

Doa dalam bahasa Arab:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّي بِنَفْسِي وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ

Latin:

Allahumma anta a'lamu minni bi nafsii, wa anaa a'lamu bi nafsii minhum. Allahummaj'alnii khairan mimmaa yazhunnuun, waghfir lii maa laa ya'lamuun, wa laa tu'aakhidznii bimaa yaquuluun.

Artinya:

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka ucapkan.”

Doa ini mengandung pelajaran yang mendalam. Kita memohon kepada Allah agar diberi kebaikan yang lebih baik daripada penilaian manusia, diampuni atas kekurangan yang tidak diketahui orang lain, serta dilindungi dari akibat buruk pujian.

Doa tersebut dinukil dalam Syu'ab al-Iman karya Imam Al-Baihaqi. Riwayat dan penyandarannya perlu diperhatikan sesuai pembahasan para ulama, sehingga doa ini tidak semestinya dinyatakan sebagai hadis sahih dari Nabi Muhammad ﷺ tanpa penjelasan yang memadai.

4. Waspadai Keinginan untuk Selalu Dipuji

Selain berhati-hati ketika menerima pujian, seorang Muslim juga perlu menjaga niat ketika melakukan kebaikan.

Jangan sampai seseorang rajin bersedekah hanya ketika dilihat orang lain, bersemangat beribadah demi mendapatkan sanjungan, atau menyampaikan ilmu semata-mata agar dianggap sebagai orang yang paling pandai.

Keadaan tersebut berkaitan dengan riya', yaitu melakukan atau menampakkan amal demi memperoleh perhatian dan pujian manusia.

Padahal, nilai sebuah amal sangat berkaitan dengan niat pelakunya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan kita bahwa memperbaiki niat merupakan perkara penting dalam setiap amal. Kita hendaknya berusaha melakukan kebaikan karena Allah, bukan semata-mata untuk memperoleh pengakuan manusia.

Jika mendapatkan pujian, tetaplah berbuat baik. Jika tidak ada yang memuji, jangan berhenti melakukan kebaikan.

5. Menyikapi Pujian dengan Rendah Hati

Islam tidak mengajarkan agar seseorang membenci setiap perkataan baik yang disampaikan orang lain. Pujian yang wajar dan benar dapat menjadi bentuk penghargaan atau ungkapan terima kasih.

Namun, pujian yang berlebihan, tidak sesuai kenyataan, atau berpotensi menimbulkan kesombongan perlu disikapi dengan hati-hati.

Ada beberapa sikap yang dapat dibiasakan ketika mendapatkan pujian:

  • Mengucapkan hamdalah. Ingatlah bahwa setiap kemampuan dan kesempatan untuk berbuat baik merupakan karunia Allah.

  • Tidak membanggakan diri. Hindari merasa lebih mulia daripada orang lain hanya karena suatu kelebihan.

  • Mengakui kekurangan. Jadikan pujian sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, bukan alasan untuk merasa sempurna.

  • Memperbaiki niat. Periksa kembali tujuan kita dalam bekerja, belajar, beribadah, dan membantu sesama.

  • Mendoakan kebaikan. Tanggapi orang yang memuji dengan santun tanpa harus membalasnya dengan sanjungan yang berlebihan.

Dengan sikap tersebut, pujian dapat diterima secara wajar tanpa harus menjadi sumber kesombongan.

Penutup

Pujian manusia bukanlah tujuan utama dalam kehidupan seorang Muslim. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga keikhlasan, memperbaiki akhlak, dan berusaha mendapatkan rida Allah SWT.

Ketika mendapatkan sanjungan, jangan buru-buru merasa diri paling baik. Ingatlah bahwa manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari keadaan kita, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Semoga Allah SWT melindungi hati kita dari sifat ujub, sombong, dan riya'. Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi amal yang ikhlas, membawa manfaat bagi sesama, serta bernilai di sisi-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab,