Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang Rezeki, Mengajarkan Keseimbangan Ikhtiar dan Tawakal

Rezeki merupakan ketetapan Allah SWT yang harus disikapi dengan keimanan, usaha, dan tawakal. Kisah Imam Malik dan Imam Syafi’i memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya bekerja tanpa kehilangan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan rezeki kerap menimbulkan beragam pandangan. Ada yang menekankan pentingnya bekerja keras, sementara yang lain mengingatkan agar manusia senantiasa menyerahkan hasil usahanya kepada Allah SWT.

Dalam sebuah kisah yang populer di kalangan umat Islam, perbedaan pandangan tersebut tergambar melalui dialog antara dua ulama besar, yakni Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi’i. Keduanya dikenal sebagai imam mazhab yang memiliki keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman terhadap ajaran Islam.

Kisah ini bukan sekadar membahas bagaimana seseorang memperoleh rezeki, melainkan juga mengajarkan bahwa usaha dan tawakal seharusnya berjalan beriringan.

Imam Malik: Rezeki Datang atas Kehendak Allah

Dikisahkan, dalam sebuah majelis ilmu, Imam Malik menjelaskan pandangannya mengenai rezeki. Menurut kisah tersebut, manusia hendaknya memiliki keyakinan kuat bahwa Allah SWT telah mengatur rezeki setiap makhluk-Nya.

Beliau mengingatkan pentingnya tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah menjalankan tanggung jawab yang dimiliki.

Pandangan ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW tentang burung yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dengan perut kenyang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi, no. 2344)

Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa tawakal bukan sekadar keyakinan di dalam hati, melainkan juga kepercayaan kepada Allah yang disertai tindakan. Burung tidak hanya menunggu makanan di sarangnya, tetapi terbang untuk mencari apa yang dibutuhkannya.

Imam Syafi’i Menekankan Pentingnya Ikhtiar

Imam Syafi’i, yang dikenal sebagai salah satu murid Imam Malik, memiliki penekanan tersendiri dalam memahami persoalan rezeki.

Dalam kisah yang beredar tersebut, beliau mengajukan pertanyaan sederhana. Bagaimana seekor burung bisa mendapatkan makanan apabila hanya berdiam diri di dalam sarangnya dan tidak berusaha keluar untuk mencarinya?

Pertanyaan itu menggambarkan pentingnya ikhtiar dalam kehidupan manusia.

Menurut sudut pandang ini, seseorang tidak cukup hanya berharap mendapatkan rezeki tanpa melakukan usaha yang semestinya. Orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidup perlu bekerja, belajar, mengembangkan keterampilan, serta memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Seorang pelajar, misalnya, perlu bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Seorang pedagang harus mengelola usahanya dengan baik, sedangkan seorang petani perlu mengolah tanah dan merawat tanamannya.

Semua itu merupakan bentuk ikhtiar yang dilakukan manusia. Adapun hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT.

Kisah Anggur yang Mempertemukan Dua Pandangan

Kisah tersebut kemudian berlanjut dengan sebuah peristiwa menarik.

Diceritakan, suatu hari Imam Syafi’i berjalan dan melihat sekelompok orang sedang memanen buah anggur. Beliau kemudian membantu pekerjaan mereka hingga selesai.

Sebagai imbalan atas bantuan tersebut, Imam Syafi’i memperoleh beberapa ikat anggur.

Beliau merasa senang karena peristiwa itu dianggap mendukung pandangannya bahwa usaha dapat menjadi jalan datangnya rezeki. Beliau pun membawa anggur tersebut untuk menemui gurunya, Imam Malik.

Kepada sang guru, Imam Syafi’i menceritakan bahwa anggur yang dibawanya diperoleh setelah membantu orang-orang yang sedang memanen buah.

Menurut penalarannya, apabila dirinya tidak keluar dan tidak melakukan pekerjaan tersebut, anggur itu mungkin tidak akan diperolehnya melalui jalan yang sama.

Imam Malik kemudian menerima dan menikmati anggur yang dibawa muridnya.

Dalam kisah populer tersebut, Imam Malik menjelaskan bahwa dirinya pada hari itu tetap memperoleh rezeki, meskipun tidak melakukan pekerjaan memanen anggur. Ia menjalankan perannya sebagai guru, sementara anggur datang melalui muridnya yang berkunjung.

Peristiwa itu menjadi gambaran bahwa rezeki dapat hadir melalui jalan yang beragam. Ada yang memperolehnya melalui pekerjaan langsung, ada pula yang menerimanya melalui pertolongan, pemberian, atau kesempatan yang tidak disangka-sangka.

Mendengar penjelasan tersebut, Imam Syafi’i pun tertawa. Kisah itu kemudian dikenang sebagai gambaran dialog antara ikhtiar dan tawakal dalam menyikapi rezeki.

Perlu dicatat, kisah ini populer sebagai cerita hikmah, sehingga rincian dialognya tidak sepatutnya langsung dianggap sebagai riwayat sejarah yang pasti tanpa pemeriksaan sumbernya.

Ikhtiar dan Tawakal Bukan Dua Hal yang Bertentangan

Jika direnungkan lebih dalam, kisah Imam Malik dan Imam Syafi’i mengandung pelajaran bahwa ikhtiar dan tawakal tidak perlu dipertentangkan.

Ikhtiar merupakan usaha sungguh-sungguh yang dilakukan manusia sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya. Sementara itu, tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah SWT, meyakini pertolongan-Nya, dan menerima hasil setelah melakukan usaha yang semestinya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut mengingatkan manusia tentang pentingnya usaha. Di sisi lain, seorang Muslim juga meyakini bahwa tidak semua hasil berada dalam kendalinya. Ada keadaan yang berjalan sesuai harapan dan ada pula yang mengharuskannya bersabar serta memperbaiki ikhtiar.

Karena itu, bekerja keras tidak seharusnya membuat seseorang melupakan Allah. Sebaliknya, keyakinan terhadap jaminan rezeki dari Allah juga tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan mengabaikan tanggung jawab.

Seorang Muslim hendaknya berusaha dengan cara yang halal, menjaga kejujuran, menjauhi kecurangan, serta memohon pertolongan Allah dalam setiap urusannya.

Belajar Menghormati Perbedaan Pendapat

Selain mengajarkan tentang rezeki, kisah ini juga mengandung pesan mengenai adab dalam menyikapi perbedaan.

Imam Malik dan Imam Syafi’i dikenal sebagai dua ulama besar dalam tradisi keilmuan Islam. Kisah yang populer ini menggambarkan bahwa perbedaan penekanan dalam memahami suatu persoalan tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Setiap orang dapat memiliki pengalaman, pertimbangan, dan cara memahami persoalan yang berbeda.

Oleh sebab itu, perbedaan hendaknya disikapi dengan sikap terbuka, saling menghormati, dan keinginan untuk mencari kebenaran. Seseorang tidak perlu merendahkan orang lain hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.

Namun, menghormati perbedaan bukan berarti mengabaikan dalil dan ketepatan ilmu. Setiap pendapat tetap perlu dipelajari berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rezeki Harus Dicari dengan Cara yang Halal

Pelajaran lain yang tidak kalah penting adalah menjaga cara memperoleh rezeki.

Dalam Islam, banyaknya harta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Rezeki yang baik juga berkaitan dengan kehalalan sumbernya, keberkahannya, dan bagaimana harta tersebut dimanfaatkan.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak menghalalkan segala cara demi memperoleh keuntungan. Kejujuran dalam berdagang, tanggung jawab dalam bekerja, kesungguhan dalam belajar, serta kepedulian kepada sesama merupakan bagian penting dari ikhtiar yang baik.

Ketika hasil usaha belum sesuai harapan, seseorang tidak perlu berputus asa. Ia dapat mengevaluasi langkah yang telah ditempuh, memperbaiki kekurangan, meningkatkan kemampuan, dan terus berdoa kepada Allah SWT.

Sebaliknya, ketika memperoleh kelapangan rezeki, ia hendaknya bersyukur, tidak bersikap sombong, dan bersedia berbagi dengan orang yang membutuhkan.

Penutup

Kisah Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang rezeki mengingatkan kita bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah SWT.

Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, tetapi tidak boleh merasa bahwa seluruh hasil hanya bergantung pada kekuatannya sendiri. Sebaliknya, tawakal harus menumbuhkan ketenangan dan keteguhan hati, bukan menjadi alasan untuk meninggalkan usaha.

Jalani pekerjaan dengan sungguh-sungguh, carilah rezeki melalui jalan yang halal, perbanyak doa, dan serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Sebab, tugas manusia adalah berusaha dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhir berada dalam ketetapan dan kebijaksanaan-Nya.

Ikhtiar adalah wujud kesungguhan, tawakal adalah wujud keimanan, dan syukur adalah cara menjaga hati ketika rezeki datang.