Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Overthinking dan Burnout: Ternyata Ulama Dulu Sudah Membahasnya

Ditulis oleh [Ahmad Jitarunas] | Kategori: Kesehatan Jiwa dan Spiritualitas  |

Tag: overthinking, burnout, santri, tasawuf, kesehatan mental

Keterangan gambar utama: [Santri duduk tenang di serambi pondok. Sumber: dokumentasi pribadi/pondok]

Pendahuluan

Istilah overthinking dan burnout hampir setiap hari berseliweran di media sosial. Banyak anak muda merasa lelah secara mental, sulit tidur karena memikirkan hal yang belum terjadi, atau kehilangan semangat setelah terus-menerus dipaksa produktif. Karena istilahnya berasal dari dunia psikologi modern, sebagian orang mengira persoalan ini tidak pernah dibahas dalam tradisi Islam.

Anggapan itu kurang tepat. Para ulama sejak dahulu sudah membahas kegelisahan hati, kelelahan jiwa, dan cara menyikapinya, meskipun dengan istilah yang berbeda. Artikel ini mengajak pembaca, khususnya santri dan generasi muda, melihat kembali warisan itu.

Dua Istilah Baru, Persoalan yang Lama

Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan dan berulang-ulang, terutama hal yang belum terjadi atau tidak bisa kita kendalikan. Sedangkan Burnout adalah kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan yang berkepanjangan.

Dalam khazanah Islam, kondisi serupa dikenal lewat istilah seperti al-hamm (kecemasan), al-huzn (kesedihan), waswas (bisikan keraguan), dan kasal (kelesuan). Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa memohon perlindungan dari al-hamm wal-hazan.

Overthinking dalam Pandangan Ulama

Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari menasihati agar manusia mengistirahatkan dirinya dari sikap terlalu mengatur segala urusan (tadbir). Sebab, apa yang sudah dijamin dan diatur oleh Allah tidak perlu kita pikirkan secara berlebihan. Nasihat ini sejalan dengan solusi bagi pelaku overthinking, yaitu membedakan antara yang bisa diusahakan dan yang harus dipasrahkan.

Al-Qur’an juga memberi pegangan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini mengingatkan bahwa merasa kewalahan bukan tanda lemah iman, dan bahwa kapasitas manusia memang ada batasnya.

Ketenangan hati pun punya jalannya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). ayat ini mengajarkan bahwa Zikir bukan pengganti usaha, tetapi cara menenangkan pikiran agar langkah berikutnya lebih jernih.

Burnout dan Hak Tubuh atas Istirahat

Kisah Salman al-Farisi dan Abu Darda’ radhiyallahu ’anhuma sering dijadikan rujukan. Abu Darda’ beribadah dan berpuasa tanpa jeda, hingga Salman menegurnya. Nabi ﷺ lalu membenarkan Salman dengan sabdanya bahwa Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan keluargamu punya hak atasmu, maka berikanlah setiap hak kepada pemiliknya (HR. Bukhari).

Pelajarannya jelas: istirahat bukan kemalasan. Memaksakan diri tanpa batas, bahkan dalam ibadah dan belajar, bisa melewati hak tubuh dan jiwa.

Rasulullah ﷺ juga menyebut bahwa kelelahan, sakit, kesedihan, dan kekhawatiran yang menimpa seorang mukmin menjadi sebab dihapuskannya dosa (HR. Bukhari dan Muslim).

Penerapan dalam Kehidupan Santri

Berikut adalah beberapa cara mengelola diri ketika mengalami Overthingking dan burnout :

• Pilah yang bisa dan tidak bisa dikendalikan. Setoran hafalan dan jadwal belajar bisa diusahakan, sedangkan hasil akhir diserahkan kepada Allah.

• Jaga ritme, bukan sekadar target. Disiplin penting, tetapi tidur cukup dan jeda sejenak itu manusiawi.

• Jadikan zikir dan doa sebagai jeda. Manfaatkan waktu setelah salat untuk menenangkan pikiran sebelum kembali beraktivitas.

• Bercerita kepada orang tepercaya. Ustadz, pembina, atau teman dekat bisa menjadi tempat berbagi beban, karena tidak semua hal harus dipikul sendirian.

Penutup

Overthinking dan burnout memang istilah masa kini, tetapi kegelisahan dan kelelahan jiwa sudah dikenal dan dibimbing oleh para ulama sejak lama. Tradisi pesantren tidak menyuruh santri memendam keresahan, melainkan mengajarkan cara menyikapinya dengan ikhtiar, istirahat, dan tawakal.

Referensi

• Al-Qur’an al-Karim: QS. Al-Baqarah: 286; QS. Ar-Ra’d: 28.

• Shahih al-Bukhari: hadis doa perlindungan dari al-hamm wal-hazan; hadis Salman dan Abu Darda’.

• Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis tentang kelelahan, sakit, dan kekhawatiran sebagai penghapus dosa.

• Ibnu Athaillah as-Sakandari. Al-Hikam al-’Ata’iyyah.

• https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anxiety-disorders

• https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases