Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tajassus: Bahaya Mencari-Cari Kesalahan dan Aib Orang Lain

Menjaga kehormatan sesama Muslim merupakan bagian penting dari akhlak Islam. Seorang Muslim tidak sepatutnya sibuk mengungkap kekurangan orang lain, menyelidiki urusan pribadinya, atau mencari-cari kesalahan yang kemudian dijadikan bahan pembicaraan. Perilaku seperti ini dikenal dengan istilah tajassus.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin mudah terhubung melalui media sosial, larangan tajassus menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati dalam memperlakukan sesama. Sebab, tidak semua hal yang dapat diketahui tentang orang lain pantas untuk dicari, apalagi disebarluaskan.

1. Memahami Makna Tajassus dalam Islam

Tajassus adalah tindakan mencari-cari sesuatu yang tersembunyi dari orang lain, terutama kekurangan dan aib yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Perilaku ini dapat muncul karena rasa ingin tahu yang berlebihan, prasangka buruk, kedengkian, atau keinginan untuk menjatuhkan kehormatan seseorang.

Islam melarang perilaku tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini mengajarkan dua adab yang saling berkaitan, yaitu menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari-cari keburukan sesama.

Prasangka tanpa dasar dapat mendorong seseorang melakukan penyelidikan yang tidak semestinya. Ketika seseorang sudah terlanjur mencurigai orang lain, ia sering kali berusaha menemukan sesuatu untuk membenarkan kecurigaannya, meskipun belum tentu ada kesalahan yang nyata.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan kecurigaan sebagai alasan untuk melanggar privasi dan kehormatan orang lain.

2. Jangan Mudah Berburuk Sangka kepada Sesama Muslim

Berburuk sangka tanpa bukti dapat merusak hubungan persaudaraan. Seseorang yang awalnya dihormati bisa saja dicurigai, dituduh, atau dinilai buruk hanya karena dugaan yang belum tentu benar.

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar menjauhi prasangka buruk. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga pikiran dan penilaian terhadap orang lain. Kita tidak seharusnya menetapkan kesimpulan buruk hanya berdasarkan dugaan, kabar yang belum jelas, atau penampilan seseorang.

Husnuzan atau berbaik sangka bukan berarti membenarkan semua tindakan orang lain. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menghakimi tanpa dasar yang memadai.

Dengan membiasakan diri berbaik sangka, kita dapat menjaga ketenangan hati sekaligus menghindari tindakan yang merugikan orang lain.

3. Mengorek Aib Dapat Merusak Persaudaraan

Kebiasaan mencari-cari kesalahan tidak berhenti pada rasa ingin tahu. Dalam banyak keadaan, kebiasaan tersebut berkembang menjadi gunjingan, fitnah, perselisihan, bahkan permusuhan.

Ketika seseorang menemukan kekurangan orang lain, ia mungkin tergoda untuk menceritakannya kepada teman, menyebarkannya di grup percakapan, atau menjadikannya bahan unggahan di media sosial.

Akibatnya, kehormatan seseorang dapat rusak dan hubungan sosial menjadi tidak sehat.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang bahaya mengikuti dan mengorek kesalahan orang lain. Dalam hadis riwayat Abu Dawud no. 4888, disebutkan bahwa orang yang terus mengikuti aib kaum Muslimin dapat merusak mereka atau hampir merusak mereka.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa mencari-cari keburukan bukanlah perkara ringan. Perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar daripada rasa penasaran yang ingin dipuaskan.

Sebelum membicarakan kekurangan seseorang, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar-benar membawa manfaat, atau justru menambah luka dan memperbesar masalah?

4. Menjaga Privasi, Termasuk Tidak Menguping Pembicaraan

Tajassus juga dapat terjadi ketika seseorang sengaja menguping percakapan pribadi, membuka pesan orang lain tanpa izin, atau mencari informasi yang memang tidak diperuntukkan baginya.

Dalam hadis riwayat Bukhari no. 7042, Rasulullah ﷺ memberikan ancaman keras kepada orang yang sengaja menguping pembicaraan orang lain ketika mereka tidak menghendaki percakapan itu didengar.

Hadis ini mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak hanya berkaitan dengan tubuh dan hartanya, tetapi juga dengan ruang pribadi serta pembicaraan yang menjadi haknya.

Dalam kehidupan modern, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan tidak sembarangan membuka telepon genggam orang lain, membaca pesan pribadi tanpa izin, atau menyebarkan percakapan yang diperoleh secara tidak patut.

Rasa dekat dengan seseorang tidak otomatis memberi kita hak untuk mengetahui seluruh urusannya. Ada batasan yang harus dihormati demi menjaga kepercayaan dan hubungan baik.

5. Jika Menemukan Kesalahan, Bersikaplah dengan Bijaksana

Larangan tajassus bukan berarti umat Islam harus menutup mata terhadap semua bentuk pelanggaran. Ada keadaan ketika suatu kesalahan benar-benar terlihat atau terdapat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga perlu ditangani.

Namun, hal itu berbeda dengan sengaja mencari-cari aib yang tersembunyi.

Jika ditemukan persoalan yang perlu diselesaikan, hendaknya langkah yang diambil mempertimbangkan kebenaran informasi, kemaslahatan, dan cara yang tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.

Sebagai contoh, apabila seorang pendidik mengetahui adanya perundungan di lingkungan sekolah, persoalan tersebut perlu ditangani demi melindungi korban. Akan tetapi, penanganannya tidak boleh berubah menjadi penyebaran aib atau penghukuman berdasarkan rumor.

Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat, dugaan pelanggaran sebaiknya ditangani melalui cara yang tepat, bukan dengan mengumbar tuduhan di hadapan publik.

Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga kehormatan manusia dan mencegah kemudaratan.

6. Lebih Baik Muhasabah daripada Sibuk Mencari Kekurangan Orang

Setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya terbebas dari kesalahan. Karena itu, waktu dan perhatian kita seharusnya lebih banyak digunakan untuk memperbaiki diri daripada menyelidiki kekurangan orang lain.

Diriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang mampu melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi melupakan kayu besar yang ada di matanya sendiri.

Perumpamaan tersebut menggambarkan kecenderungan manusia yang mudah menyadari kekurangan orang lain, tetapi sering kali kurang peka terhadap kesalahannya sendiri.

Padahal, memperbaiki diri merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Kita perlu terus mengevaluasi ucapan, perilaku, niat, dan hubungan kita dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

Daripada menghabiskan waktu untuk mencari kesalahan orang lain, akan lebih bermanfaat jika kita menggunakannya untuk belajar, memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan memohon ampunan kepada Allah.

7. Membiasakan Diri Menjaga Kehormatan Sesama

Agar terhindar dari perilaku tajassus, ada beberapa sikap yang dapat kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, mengendalikan rasa ingin tahu. Tidak semua informasi tentang orang lain perlu diketahui. Hormatilah batasan pribadi yang sewajarnya dijaga.

Kedua, memeriksa kebenaran informasi. Jangan langsung mempercayai kabar negatif, terlebih jika sumbernya tidak jelas. Hindari pula menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Ketiga, tidak menjadikan aib sebagai bahan hiburan. Membicarakan kekurangan orang lain demi tertawa atau mendapatkan perhatian dapat melukai kehormatan seseorang.

Keempat, menasihati dengan cara yang baik. Apabila memang diperlukan, sampaikan nasihat secara bijaksana dan pribadi, bukan dengan mempermalukan orang yang dinasihati.

Kelima, memperbanyak muhasabah. Ingatlah bahwa kita sendiri membutuhkan pertolongan Allah untuk memperbaiki kekurangan dan menjaga diri dari dosa.

Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu membangun lingkungan yang lebih aman, penuh kepercayaan, dan jauh dari budaya saling menjatuhkan.

Penutup

Tajassus merupakan perilaku yang harus dihindari karena dapat melanggar kehormatan, merusak kepercayaan, dan menimbulkan permusuhan di antara sesama Muslim. Al-Qur’an telah mengingatkan kita agar menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.

Seorang Muslim yang baik bukanlah orang yang paling banyak mengetahui rahasia dan kekurangan manusia, melainkan orang yang mampu menjaga lisan, menghormati privasi, dan bersungguh-sungguh memperbaiki dirinya sendiri.

Mari kita jadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Jangan sampai keinginan mengetahui urusan orang lain membuat kita lalai terhadap kewajiban memperbaiki diri.

Semoga Allah SWT menjaga hati dan lisan kita, menjauhkan kita dari prasangka buruk serta kebiasaan mencari-cari aib, dan membimbing kita menjadi pribadi yang lebih berakhlak.

Wallahu a‘lam bish-shawab.