Bolehkah Memutus Hubungan dengan Teman yang Toxic?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari pergaulan. Teman seharusnya menjadi sumber kebaikan, penguat iman, dan pengingat saat kita lalai. Namun pada kenyataannya, tidak semua pertemanan membawa dampak positif. Ada kalanya seseorang justru merasa lelah, tertekan, bahkan jauh dari nilai-nilai kebaikan karena pengaruh seorang teman. Lalu muncul pertanyaan penting: bolehkah dalam Islam memutus hubungan dengan teman yang toxic?
Makna Teman dalam Islam
Islam sangat menekankan pentingnya memilih teman yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman.”(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa teman memiliki pengaruh besar terhadap akhlak, kebiasaan, bahkan keimanan seseorang. Teman yang baik akan mengajak kepada kebaikan, sedangkan teman yang buruk bisa menyeret pada keburukan.
Apa yang Dimaksud Teman Toxic?
Istilah toxic merujuk pada perilaku yang merusak secara mental, emosional, atau spiritual. Dalam konteks Islam, teman toxic bisa berupa:
-
Mengajak kepada maksiat atau perbuatan yang dilarang Allah
-
Meremehkan nilai agama dan ibadah
-
Gemar bergibah, memfitnah, dan menyebarkan kebencian
-
Membuat kita jauh dari ketenangan dan kebaikan
Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az-Zukhruf: 67)
Hukum Memutus Hubungan dalam Islam
Islam melarang memutus silaturahmi, terutama dengan keluarga dan kerabat. Namun, hubungan pertemanan berbeda dengan ikatan nasab. Para ulama menjelaskan bahwa menjaga diri dari pengaruh buruk adalah bagian dari upaya menjaga iman.
Jika pertemanan tersebut:
-
Mengarah pada dosa
-
Merusak akhlak dan ketenangan batin
-
Sulit diperbaiki meski sudah dinasihati
Maka menjaga jarak atau membatasi hubungan diperbolehkan, bahkan bisa menjadi pilihan yang bijak.
Imam Al-Ghazali رحمه الله menyebutkan bahwa menjauhi lingkungan yang buruk termasuk cara menjaga hati agar tetap bersih dan istiqamah dalam ketaatan.
Cara Menyikapi Teman Toxic dengan Bijak
Islam mengajarkan adab dan kebijaksanaan dalam bersikap, di antaranya:
-
Menasihati dengan cara yang baik, jika masih memungkinkan.
-
Membatasi interaksi, bukan memutus dengan permusuhan.
-
Menjaga adab dan akhlak, tidak mencela atau membuka aib.
-
Mendoakan kebaikan bagi teman tersebut.
-
Mencari lingkungan yang lebih saleh dan mendukung iman.
Menjaga Diri adalah Tanggung Jawab Iman
Menjauh dari pengaruh buruk bukan berarti membenci, tetapi bentuk ikhtiar menjaga diri dan iman. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa memilih jalan yang mendekatkan kepada Allah, meski harus berpisah dari hal-hal yang dicintai.
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(QS. At-Tahrim: 6)
Penutup
Memutus atau menjauh dari teman yang toxic bukanlah perbuatan tercela, selama dilakukan dengan niat menjaga iman dan akhlak, serta tetap mengedepankan adab Islam. Islam tidak mengajarkan untuk bertahan dalam hubungan yang merusak, tetapi mendorong umatnya untuk hidup dalam lingkungan yang menumbuhkan kebaikan dan ketakwaan.
Semoga Allah ﷻ memberi kita teman-teman yang saleh, yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Aamiin.
