Tiga Golongan yang Merugi di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Setiap tahun Allah ﷻ memberikan kesempatan emas kepada kaum muslimin untuk memperbaiki diri, melipatgandakan pahala, dan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.
Namun, tidak semua orang mampu memanfaatkan Ramadhan dengan baik. Ada sebagian manusia yang justru keluar dari bulan mulia ini dalam keadaan merugi. Rasulullah ﷺ bahkan memberikan peringatan keras tentang hal ini.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ pernah naik mimbar dan mengucapkan “Aamiin” sebanyak tiga kali. Ketika para sahabat bertanya, beliau menjelaskan bahwa Malaikat Jibril berdoa dan beliau mengaminkannya.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan juga disebutkan oleh Al-Hakim.
Berikut tiga golongan yang merugi di bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadis tersebut:
1. Orang yang Mendapati Ramadhan, Tetapi Tidak Mendapat Ampunan
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya):
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni.”
Betapa besar kerugian orang ini. Ramadhan adalah bulan maghfirah (ampunan). Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Allah ﷻ melipatgandakan pahala amal saleh, dan doa-doa lebih mudah dikabulkan.
Jika dalam suasana yang begitu penuh rahmat ini seseorang tetap tidak mendapatkan ampunan, maka itu menunjukkan kerasnya hati dan jauhnya ia dari kesungguhan taubat.
Padahal Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, menjaga lisan, serta memperbanyak sedekah dan tilawah.
Jika seseorang melewati Ramadhan tanpa perubahan diri, tanpa taubat yang sungguh-sungguh, maka sungguh ia termasuk golongan yang merugi.
2. Anak yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup, Tetapi Tidak Masuk Surga
Dalam hadis tersebut juga disebutkan:
“Celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, namun ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka).”
Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Salah satu amal terbesar yang bisa mendekatkan seseorang kepada surga adalah berbakti kepada orang tua.
Allah ﷻ memerintahkan berbuat baik kepada orang tua setelah perintah menyembah-Nya, sebagaimana dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 23.
Berbakti kepada orang tua bukan hanya memberi materi, tetapi juga bersikap lembut, mendoakan, membantu, dan tidak menyakiti hati mereka.
Jika di bulan Ramadhan seseorang masih mampu menyakiti hati orang tuanya, enggan membantu mereka, atau bahkan memutus komunikasi, maka ia telah menyia-nyiakan peluang besar menuju surga.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan keluarga, meminta maaf, dan memperbanyak doa untuk kedua orang tua—baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
3. Orang yang Disebut Nama Nabi, Tetapi Tidak Bershalawat
Golongan ketiga yang merugi adalah:
“Celakalah seseorang yang ketika namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat kepadaku.”
Bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah bentuk cinta dan penghormatan. Allah dan para malaikat pun bershalawat kepada Nabi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56.
Maka sangat disayangkan jika seorang muslim mendengar nama Rasulullah ﷺ namun tidak tergerak lisannya untuk mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”
Di bulan Ramadhan, ketika pahala dilipatgandakan, memperbanyak shalawat adalah amalan yang sangat ringan tetapi besar nilainya di sisi Allah.
Shalawat menjadi sebab turunnya rahmat, dihapusnya dosa, dan diangkatnya derajat. Bahkan dalam hadis disebutkan, orang yang paling dekat dengan Nabi pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepada beliau.
Refleksi: Jangan Sampai Kita Termasuk yang Merugi
Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini telah tiada.
Maka sebelum Ramadhan berlalu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
-
Sudahkah kita sungguh-sungguh bertaubat?
-
Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan orang tua?
-
Sudahkah lisan kita basah dengan shalawat?
Jangan sampai kita termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa ampunan dan keberkahan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan maghfirah, rahmat, dan pembebasan dari api neraka di bulan yang mulia ini.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.