Tanda-Tanda Hati yang Hidup Menurut Ulama
Hati adalah pusat kehidupan ruhani seorang manusia. Ketika hati hidup, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam kebaikan. Namun ketika hati mati, maka nasihat tak lagi menyentuh, ibadah terasa hambar, dan dosa dilakukan tanpa rasa bersalah.
Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumiddin, menjelaskan bahwa hati (qalb) adalah raja dalam diri manusia. Jika rajanya baik, maka baik pula seluruh “prajuritnya”. Sebaliknya, jika rusak, maka rusaklah seluruh perilaku.
Lalu, apa saja tanda-tanda hati yang hidup menurut para ulama?
1. Mudah Tersentuh oleh Al-Qur’an
Hati yang hidup akan bergetar ketika mendengar ayat-ayat Allah. Ia merasa takut ketika mendengar ancaman dan berharap ketika mendengar janji rahmat.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ciri orang beriman adalah ketika disebut nama Allah, hatinya bergetar. Bukan sekadar memahami makna, tetapi benar-benar merasakan kehadiran Allah dalam setiap ayat.
Jika hati masih bisa menangis karena ayat Al-Qur’an, itu tanda ia belum mati.
2. Peka terhadap Dosa
Salah satu tanda hati yang hidup adalah adanya rasa bersalah ketika berbuat maksiat. Ia tidak tenang sebelum bertaubat.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang tidak lagi terasa sebagai dosa. Ketika seseorang bisa tertawa setelah berbuat salah tanpa penyesalan, itu pertanda hati mulai mengeras.
Sebaliknya, hati yang hidup akan segera kembali kepada Allah meski baru saja tergelincir.
3. Rindu kepada Kebaikan dan Ibadah
Orang yang hatinya hidup akan merasa kehilangan jika terlewat dari kebaikan. Ia merasa sedih jika tidak shalat berjamaah, tidak membaca Al-Qur’an, atau lalai dari dzikir.
Hasan al-Basri pernah mengatakan bahwa seorang mukmin akan merasa sedih atas waktu yang berlalu tanpa diisi kebaikan, sebagaimana ia sedih kehilangan harta berharganya.
Hati yang hidup merindukan majelis ilmu, merindukan sujud yang panjang, dan merasa tenang saat berdzikir.
4. Tidak Betah dalam Lingkungan Maksiat
Tanda lainnya adalah hati terasa sempit ketika berada di lingkungan yang jauh dari Allah. Ia gelisah ketika terlalu lama dalam kelalaian.
Sufyan ats-Tsauri menyebutkan bahwa cahaya iman akan redup ketika seseorang terus-menerus berada dalam suasana dosa tanpa usaha menjauh.
Jika hati merasa tidak nyaman saat mendengar gibah, melihat kemaksiatan, atau terlibat dalam keburukan, itu pertanda masih ada cahaya iman di dalamnya.
5. Senang Menerima Nasihat
Hati yang hidup tidak alergi terhadap nasihat. Ia justru bersyukur ketika diingatkan.
Imam An-Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat terbuka terhadap koreksi. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu ciri hati yang sehat adalah tidak sombong terhadap kebenaran, meski datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
Hati yang mati akan marah ketika dinasihati. Hati yang hidup akan merenung dan memperbaiki diri.
6. Mengutamakan Akhirat daripada Dunia
Bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi hati tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Hati yang hidup memahami bahwa kebahagiaan sejati bukan pada harta, jabatan, atau pujian manusia, tetapi pada ridha Allah.
Ia bekerja, berusaha, dan beraktivitas, namun orientasinya tetap akhirat.
7. Takut Kehilangan Iman
Orang yang hatinya hidup tidak pernah merasa aman dari fitnah iman. Ia selalu khawatir amalnya tidak diterima dan imannya berkurang.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang sahabat yang dijamin surga, tetap merasa takut jika dirinya belum selamat. Rasa takut ini bukan keputusasaan, tetapi kehati-hatian yang membuatnya semakin taat.
Semakin hidup hati seseorang, semakin ia rendah hati di hadapan Allah.
Bagaimana Menghidupkan Hati?
Para ulama menyebutkan beberapa cara untuk menjaga dan menghidupkan hati:
-
Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
-
Memperbanyak dzikir
-
Berkumpul dengan orang saleh
-
Mengurangi dosa kecil sebelum menjadi besar
-
Mengingat kematian
Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa hati seperti tanah. Jika terus disirami dengan ketaatan, ia akan subur. Jika dibiarkan dalam kelalaian, ia akan kering dan retak.
Penutup
Hati yang hidup bukanlah hati yang bebas dari dosa, tetapi hati yang selalu kembali kepada Allah setiap kali tergelincir. Ia lembut terhadap kebenaran, peka terhadap kesalahan, dan rindu kepada kebaikan.
Jika jawabannya ya, maka bersyukurlah. Itu tanda bahwa hati kita masih hidup.
Semoga Allah menjaga hati kita dari kekerasan dan kematian ruhani, serta menjadikannya hati yang bersih saat menghadap-Nya kelak. Aamiin.
