Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tarbiyah Jinsiyah : Edukasi Santri untuk Menjaga Kehormatan dan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual

Penulis : R. Mukti

Lembaga pendidikan terus menjadi rujukan sebagai instansi yang mencetak para siswa berkarakter, unggul, dan berprestasi. Sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi tidak hanya memberikan fasilitas belajar tetapi juga harus menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan pengetahuan mereka.

Fenomena belakangan ini menyorot lembaga pendidikan menjadi ruang yang rentan terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual. Kasus pembullyan, kekerasan, dan pelecehan tersebut hampir menimpa disetiap lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan islam berbasis pesantren. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi instansi atau pesantren untuk memastikan kelancaran dan menjadi ruang aman siswa/santri dalam menimba ilmu.

Asrama Sunan Ampel Putra Ponpes Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang merespon secara cepat dengan berkomitmen untuk menciptakan pesantren yang ramah anak. Komitmen ini bukan hanya menjadi slogan yang terpampang di brosur, tetapi menghasilkan tindakan tindakan nyata berupa program konseling dan family time. Dibuktikan dengan terbentuknya Satuan Tugas (SATGAS) pada Juli 2024 yang berkonsentrasi untuk menjalankan program tersebut. Indikator keberhasilannya yaitu menurunnya laporan kasus kekerasan dan pembullyan. Laporan ini tentunya harus terus diuji dan ditinjau kembali apakah benar-benar tidak ada kasus atau belum ada yang berani melapor.

Secara khusus dalam merespon kasus kekerasan seksual yang terjadi, Asrama Sunan Ampel Putra mengadakan kegiatan Tarbiyah Jinsiyah bekerjasama dengan forum Nawaning Nusantara yang diselenggarakan pada Kamis, 14 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung selama 3 jam dengan menghadirkan fasilitator yang kompeten seperti Ning Nadhroh Jauharoh (PP. Bahrul Ulum Tambakberas), Ning Ema Rahmawati (PP. Seblak Diwek), Ning Hj. Mirfa'un Nu'ma (PP. Mamba'ul Ma'arif Denanyar), dan Ning Hj. Mazidatul Faizah (Dewan Pengasuh Asrama Sunan Ampel Putra). 

Para pemateri tidak hanya menjelaskan tentang pengetahuan seksual dan batasan aurot, tetapi juga membuka ruang diskusi untuk para santri secara berkelompok. Saat sesi diskusi, santri diberikan sebuah pertanyaan terkait kasus yang terjadi untuk ditanggapi dan dipresentasikan. Selain itu santri diminta menuliskan disebuah kertas apakah mereka pernah melihat atau mengalami kekerasan seksual baik di rumah, sekolah, ataupun di asrama. Hasilnya sangat memuaskan. Mayoritas santri menuliskannya dengan jujur dan terbuka. Antusias santri menunjukkan bahwa mereka merasa aman dan terbuka dalam mengutarakan pendapatnya.

Berdasarkan bukti tersebut, kegiatan Tabiyah Jinsiyah ini begitu efektif dalam membuka wawasan santri dan sebagai upaya deteksi dini kasus kekerasan seksual di pesantren. Harapannya pesantren menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Selain itu slogan "Santri Nyaman, Orangtua Tenang" tidak hanya sebagai jargon semata, tetapi bukti nyata hadirnya pesantren menjawab kegelisahan walisantri.

Kegiatan Tarbiyah Jinsiyah sangat direkomendasikan untuk diselenggarakan seluruh pesantren demi menjaga marwah dan islam yang rahmatan lil 'alamin. Mencetak generasi islam berkarakter, berprestasi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.