Mengapa Al-Qur’an Tidak Menyebut Nama Dajjal? Ini Hikmah yang Perlu Dipahami
Dajjal merupakan salah satu sosok yang banyak disebut dalam hadis sebagai fitnah besar menjelang datangnya Hari Kiamat. Menariknya, meskipun kemunculannya mendapat perhatian besar dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ, nama Dajjal tidak disebut secara eksplisit di dalam Al-Qur’an.
Lantas, mengapa Al-Qur’an menyebut Ya’juj dan Ma’juj, sementara Dajjal tidak disebutkan secara langsung?
Pertanyaan tersebut telah menjadi pembahasan para ulama. Salah satu penjelasan yang dikemukakan adalah berkaitan dengan makna kata Dajjal serta karakter sosok tersebut.
Dajjal, Simbol Pendustaan dan Penipuan
Secara bahasa, istilah Dajjal berkaitan dengan makna pendustaan, penipuan, dan upaya menutupi kebenaran. Dalam konteks hadis, Al-Masih ad-Dajjal merupakan seorang manusia yang akan muncul pada akhir zaman dan membawa fitnah yang sangat besar.
Ia digambarkan sebagai sosok yang berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai tipu daya. Fitnahnya menjadi ujian berat bagi keimanan manusia.
Karena itu, tidak disebutkannya nama Dajjal secara langsung dalam Al-Qur’an dapat dipahami sebagai bagian dari ketelitian pemilihan redaksi Al-Qur’an. Sebutan tersebut sendiri mengandung makna yang sangat buruk, yaitu pendusta dan penipu.
Mengapa Abu Lahab Disebut, tetapi Dajjal Tidak?
Al-Qur’an menyebut Abu Lahab secara khusus dalam Surah Al-Lahab. Hal tersebut berbeda dengan Dajjal yang kemunculannya belum terjadi.
Abu Lahab telah hidup dan mengalami peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah dakwah Rasulullah ﷺ. Karena itu, kisah dan kebinasaannya menjadi pelajaran bagi umat manusia.
Sementara Dajjal dikaitkan dengan peristiwa akhir zaman yang akan terjadi menjelang Kiamat. Dengan demikian, terdapat perbedaan konteks antara penyebutan tokoh yang telah berlalu dengan sosok yang kemunculannya masih menjadi bagian dari tanda-tanda Kiamat.
Dajjal Mengaku sebagai Tuhan
Hikmah lain yang dijelaskan berkaitan dengan Dajjal adalah klaimnya sebagai Tuhan.
Dajjal akan membawa fitnah dengan mengajak manusia mempercayai dirinya sebagai penguasa yang memiliki kekuasaan luar biasa. Padahal, ia hanyalah makhluk Allah.
Pengakuan tersebut tentu bertentangan dengan keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Allah sebagai satu-satunya Rabb dan penguasa seluruh alam.
Dalam konteks ini, tidak disebutkannya Dajjal secara langsung di dalam Al-Qur’an dapat dipandang sebagai bentuk kehinaan terhadap klaimnya. Ia mengaku sebagai Tuhan, tetapi pada hakikatnya hanyalah manusia yang lemah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
Bagaimana dengan Fir’aun?
Al-Qur’an juga menceritakan seorang penguasa yang pernah mengaku sebagai Tuhan, yaitu Fir’aun.
Namun, kisah Fir’aun telah terjadi dan berakhir dengan kebinasaan dirinya. Al-Qur’an mengabadikan kisah tersebut agar manusia mengambil pelajaran dari kesombongan dan kedurhakaannya.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut nama asli Fir’aun. Istilah “Fir’aun” merupakan gelar yang digunakan untuk penguasa Mesir pada masa tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa telitinya Al-Qur’an dalam memilih kata dan menyampaikan pesan. Setiap penyebutan memiliki konteks dan tujuan yang mengandung hikmah.
Mengapa Ya’juj dan Ma’juj Disebut dalam Al-Qur’an?
Berbeda dengan Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj disebut secara jelas dalam Al-Qur’an.
Keduanya disebut dalam Surah Al-Kahfi ayat 94 dan Surah Al-Anbiya ayat 96. Penyebutan tersebut berkaitan dengan suatu bangsa atau kelompok yang menjadi bagian dari tanda-tanda akhir zaman.
Adapun Dajjal memiliki konteks berbeda karena istilah tersebut secara langsung mengandung makna pendusta atau penipu.
Dengan demikian, tidak tepat jika tidak disebutkannya Dajjal dalam Al-Qur’an dianggap sebagai tanda bahwa keberadaannya tidak dipercaya dalam Islam. Penjelasan tentang Dajjal justru banyak ditemukan dalam hadis-hadis Nabi ﷺ.
Dajjal dalam Hadis Nabi ﷺ
Walaupun tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, Dajjal merupakan salah satu tanda besar menjelang Kiamat yang diterangkan dalam hadis.
Dalam hadis riwayat Muslim dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan sejumlah tanda besar Kiamat. Di antaranya adalah munculnya Dajjal, keluarnya binatang melata, terbitnya matahari dari arah barat, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, serta keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tentang Dajjal memiliki dasar yang kuat dalam khazanah hadis Nabi ﷺ.
Pelajaran Penting bagi Seorang Muslim
Pembahasan mengenai Dajjal seharusnya tidak hanya membuat seorang Muslim tertarik pada berbagai kisah tentang akhir zaman. Yang lebih penting adalah mengambil pelajaran tentang keteguhan iman.
Fitnah Dajjal digambarkan sebagai ujian yang sangat berat. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun keyakinan kepada Allah, memperkuat ilmu agama, serta membiasakan diri membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Dari sini kita dapat memahami bahwa Al-Qur’an dan hadis saling melengkapi dalam memberikan petunjuk. Al-Qur’an menjadi sumber utama petunjuk umat Islam, sementara hadis Nabi ﷺ menjelaskan berbagai perkara yang tidak dirinci dalam Al-Qur’an, termasuk tanda-tanda besar Hari Kiamat.
Penutup
Tidak disebutkannya nama Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an bukan berarti Dajjal tidak memiliki kedudukan dalam ajaran Islam. Keterangan mengenai sosok dan fitnahnya justru dijelaskan dalam berbagai hadis Nabi ﷺ.
Di balik hal tersebut terdapat pelajaran penting tentang ketelitian redaksi Al-Qur’an, kehinaan klaim Dajjal sebagai Tuhan, serta pentingnya memahami sumber ajaran Islam secara utuh.
Pada akhirnya, pembahasan tentang Dajjal hendaknya mendorong kita untuk semakin memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah, terutama fitnah yang dapat menyesatkan hati dan keyakinan.
