Teman Sangat Pengaruhi Akhlak, Begini Cara Islam Mengatur Pertemanan
Pertemanan bukan sekadar hubungan sosial. Dalam Islam, siapa yang menjadi sahabat dekat dapat memberikan pengaruh terhadap cara berpikir, kebiasaan, bahkan akhlak seseorang. Karena itu, memilih teman merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas iman dan kehidupan.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan orang lain untuk berbagi cerita, bekerja sama, belajar, saling membantu, dan menjalani kehidupan. Namun, tidak semua lingkungan pergaulan memberikan pengaruh yang sama.
Ada pertemanan yang membuat seseorang semakin dekat dengan Allah SWT, lebih rajin berbuat baik, dan semakin santun dalam bersikap. Sebaliknya, ada pula pergaulan yang perlahan menyeret seseorang kepada kebiasaan buruk.
Islam karena itu memberikan perhatian terhadap persoalan pertemanan. Seorang Muslim tidak dilarang bergaul dengan siapa pun, tetapi dianjurkan untuk cermat dalam menentukan siapa yang menjadi sahabat dekat dan tempat berbagi persoalan pribadi.
Bersama Orang-Orang yang Jujur dan Baik
Al-Qur'an memberikan petunjuk agar orang-orang beriman berada dalam lingkungan yang baik. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”(QS. At-Taubah: 119)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa ketakwaan juga perlu dijaga melalui lingkungan pergaulan. Berada di tengah orang-orang yang jujur dan baik dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai lalai.
Karena itu, mencari teman bukan semata-mata berdasarkan kesamaan hobi, status sosial, kepandaian, atau keuntungan duniawi. Yang lebih utama adalah bagaimana pertemanan tersebut membawa seseorang semakin dekat kepada kebaikan.
Jangan Meremehkan Teman yang Saleh
Dalam memilih lingkungan, ukuran duniawi tidak seharusnya menjadi pertimbangan utama. Kekayaan, jabatan, popularitas, maupun penampilan bukanlah ukuran utama kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah engkau bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya...”(QS. Al-Kahfi: 28)
Ayat ini mengandung pelajaran penting tentang pentingnya membersamai orang-orang yang senantiasa mengingat Allah. Mereka mungkin tidak selalu memiliki kemewahan dunia, tetapi kebersamaan dengan orang saleh dapat memberikan pengaruh besar terhadap hati dan perilaku.
Karena itu, jangan sampai seseorang memilih teman hanya karena kekayaan, popularitas, atau kedudukan. Teman yang mampu mengingatkan kepada Allah jauh lebih berharga daripada teman yang hanya memberikan keuntungan duniawi.
Duduk Bersama Orang Saleh Menjadi Penawar Hati
Para ulama terdahulu juga memberikan perhatian terhadap pentingnya lingkungan yang baik.
Ibrahim al-Khawwash rahimahullah menyebutkan beberapa perkara yang dapat menjadi penawar hati, salah satunya adalah berkumpul bersama orang-orang saleh.
Kebersamaan dengan orang-orang baik sering kali memberikan pengaruh tanpa harus melalui nasihat panjang. Melihat kesungguhan mereka dalam beribadah dapat membangkitkan semangat untuk memperbaiki diri. Mendengar ucapan yang baik dapat menjaga lisan. Melihat akhlak yang santun dapat menjadi teladan.
Inilah salah satu kekuatan pertemanan yang baik: seseorang dapat berubah menjadi lebih baik melalui lingkungan yang baik.
Rasulullah ﷺ Mengingatkan Pengaruh Teman Dekat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu mengikuti agama, tabiat, dan akhlak kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini memberikan peringatan agar seorang Muslim tidak sembarangan dalam memilih sahabat dekat.
Sebab, seseorang bisa saja awalnya hanya ikut berkumpul. Kemudian terbiasa dengan cara berbicara teman-temannya. Setelah itu mengikuti kebiasaan mereka, hingga akhirnya menganggap sesuatu yang sebelumnya buruk menjadi biasa.
Begitu pula sebaliknya. Berteman dengan orang yang rajin beribadah dapat membuat seseorang terdorong untuk ikut memperbaiki ibadahnya. Bergaul dengan orang yang menjaga lisannya dapat mengajarkan kehati-hatian dalam berbicara.
Teman Baik Seperti Penjual Minyak Wangi
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang pengaruh teman.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, teman yang baik diibaratkan seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi.
Penjual minyak wangi dapat memberikan hadiah, seseorang bisa membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya mendapatkan aroma harum ketika berada di dekatnya.
Sementara itu, berada di dekat pandai besi berpotensi membuat pakaian terkena percikan api atau setidaknya mendapatkan bau yang kurang menyenangkan.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa pengaruh teman sering kali hadir secara perlahan. Bahkan ketika seseorang merasa tidak mengikuti perilaku temannya, suasana lingkungan tetap dapat memberikan pengaruh.
Karena itu, memilih sahabat yang baik merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga diri.
Memilih Teman Bukan Berarti Menjauhi Semua Orang
Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk menutup diri dari masyarakat.
Kita tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama, menjaga silaturahmi, membantu orang yang membutuhkan, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara berinteraksi dengan banyak orang dan menjadikan seseorang sebagai sahabat dekat.
Kita dapat bersikap baik kepada siapa saja. Namun, untuk urusan teman dekat, tempat mencurahkan persoalan, meminta nasihat, atau menghabiskan sebagian besar waktu, seorang Muslim perlu lebih selektif.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah dia menyenangkan untuk diajak berteman?” tetapi juga, “Apakah pertemanan ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?”
Pertemanan yang Baik Saling Menguatkan
Sahabat yang baik bukan berarti orang yang selalu membenarkan semua tindakan kita.
Justru teman yang baik adalah orang yang berani mengingatkan ketika kita salah, mengajak kepada kebaikan, dan membantu kita kembali ketika mulai menyimpang.
Pertemanan yang sehat dibangun dengan saling menghormati, menjaga rahasia, tidak merendahkan, tidak mengajak kepada kemaksiatan, serta saling menasihati dalam kebaikan.
Dengan demikian, pertemanan tidak hanya menjadi sarana mendapatkan teman berbicara, tetapi juga menjadi jalan untuk memperbaiki diri.
Evaluasi Lingkaran Pertemanan
Ada baiknya setiap Muslim sesekali mengevaluasi lingkungan pergaulannya.
Apakah setelah berteman dengan mereka kita semakin rajin beribadah?
Apakah kita semakin santun dalam berbicara?
Apakah kita semakin peduli kepada orang lain?
Atau justru semakin mudah meremehkan dosa, meninggalkan kewajiban, dan mengikuti hawa nafsu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena lingkungan memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter.
Teman yang baik mungkin tidak selalu membuat hidup kita mudah, tetapi ia membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Sebaliknya, teman yang buruk mungkin membuat kita merasa nyaman untuk sementara, tetapi dapat membawa penyesalan di kemudian hari.
Jadikan Pertemanan sebagai Jalan Menuju Kebaikan
Pada akhirnya, memilih teman adalah bagian dari ikhtiar menjaga hati dan akhlak.
Islam mengajarkan agar kita tetap berbuat baik kepada semua orang, tetapi sekaligus bijaksana dalam menentukan siapa yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Carilah sahabat yang ketika melihatnya mengingatkan kita kepada kebaikan. Carilah teman yang ketika berbicara membuat kita mendapatkan ilmu. Carilah lingkungan yang ketika kita lalai, ada yang mengingatkan. Dan jadilah pula teman yang memberikan pengaruh baik bagi orang-orang di sekitar kita.
Sebab, pertemanan bukan hanya tentang siapa yang menemani perjalanan kita, tetapi juga tentang ke mana perjalanan itu membawa kita.
Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang saleh, menjaga hati kita dari pengaruh buruk, dan menjadikan setiap hubungan yang kita bangun sebagai jalan menuju keridaan-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
