Hikmah Agung di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj
Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa agung ini bukan sekadar perjalanan luar biasa melintasi ruang dan waktu, tetapi mengandung hikmah mendalam yang menjadi pedoman kehidupan umat Islam sepanjang zaman.
Isra’ Mi’raj terjadi pada masa penuh ujian bagi Rasulullah ﷺ, setelah wafatnya dua sosok yang sangat beliau cintai: Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib. Dalam suasana duka dan tekanan dakwah yang berat, Allah menghadirkan penghiburan sekaligus penguatan iman melalui peristiwa yang luar biasa ini.
Makna Peristiwa Isra’ Mi’raj
Secara bahasa, Isra’ berarti perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj berarti kenaikan Rasulullah ﷺ dari bumi menuju langit hingga Sidratul Muntaha.
Allah SWT berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya...”(QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kehendak dan kekuasaan Allah semata, bukan hasil rekayasa atau khayalan manusia.
Hikmah Agung di Balik Isra’ Mi’raj
1. Shalat sebagai Tiang Agama
Hikmah terbesar dari Isra’ Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan melalui wahyu di bumi, shalat diperintahkan langsung kepada Rasulullah ﷺ di langit.
Ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya.
2. Penghiburan di Tengah Ujian Berat
Isra’ Mi’raj menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada Rasulullah ﷺ. Saat manusia menolak dan menyakiti beliau, Allah justru mengangkat derajat Rasul-Nya ke langit tertinggi.
Hal ini mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti disertai pertolongan Allah, meski pertolongan itu datang dengan cara yang tak terduga.
3. Peneguhan Iman dan Keyakinan
Peristiwa ini menjadi ujian keimanan bagi kaum Quraisy dan umat Islam saat itu. Banyak yang meragukan, namun orang-orang beriman justru semakin yakin. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mendapatkan gelar Ash-Shiddiq karena pembenaran mutlaknya terhadap peristiwa ini.
Hikmahnya, iman sejati tidak bergantung pada logika semata, tetapi pada keyakinan terhadap kebenaran wahyu Allah.
4. Kedudukan Rasulullah ﷺ yang Mulia
Dalam Mi’raj, Rasulullah ﷺ menjadi imam shalat bagi para nabi. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin para nabi dan pembawa risalah terakhir yang menyempurnakan ajaran tauhid.
5. Isyarat Persatuan Umat Islam
Masjidil Aqsha sebagai tujuan Isra’ mengajarkan pentingnya persatuan umat Islam dan kepedulian terhadap tanah suci umat Islam. Peristiwa ini menghubungkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam satu ikatan aqidah.
6. Optimisme dan Harapan dalam Hidup
Isra’ Mi’raj menanamkan pesan kuat bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Malam penuh duka berubah menjadi malam penuh kemuliaan.
Ini menjadi pelajaran berharga agar umat Islam tidak berputus asa dari rahmat Allah dalam kondisi apa pun.
Relevansi Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Modern
Di tengah tantangan kehidupan modern yang penuh tekanan, Isra’ Mi’raj mengingatkan umat Islam untuk kembali memperbaiki kualitas shalat, memperkuat iman, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Shalat yang khusyuk akan melahirkan ketenangan jiwa, akhlak yang mulia, serta keteguhan dalam menghadapi problem kehidupan.
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan hanya kisah sejarah, melainkan sumber nilai spiritual, moral, dan sosial yang sangat relevan sepanjang masa. Di balik perjalanan agung tersebut tersimpan pesan keimanan, kesabaran, dan penghambaan sejati kepada Allah SWT.
Semoga dengan memahami hikmah Isra’ Mi’raj, kita semakin mencintai shalat, meneguhkan iman, dan meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”(QS. Al-Baqarah: 45)
