Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Relevansi Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Modern

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), lalu dinaikkan ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini bukan sekadar kisah spiritual masa lalu, tetapi mengandung pesan mendalam yang tetap relevan dalam kehidupan modern yang serba cepat, rasional, dan penuh tantangan.

1. Shalat sebagai Pilar Kehidupan di Tengah Kesibukan Modern

Salah satu inti terpenting Isra’ Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi target, deadline, dan distraksi digital, shalat hadir sebagai titik jeda spiritual yang menenangkan jiwa.

Shalat bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi sarana:

  • Menjaga kesehatan mental

  • Menguatkan hubungan dengan Allah

  • Menata ulang niat dan tujuan hidup

Dalam dunia yang menuntut produktivitas tanpa henti, shalat mengajarkan bahwa kesuksesan sejati dimulai dari keterhubungan dengan Allah SWT.

2. Keseimbangan antara Akal, Iman, dan Teknologi

Isra’ Mi’raj sering diuji dengan logika manusia. Namun, Islam mengajarkan bahwa iman tidak meniadakan akal, dan akal tidak boleh mematikan iman. Di era sains dan teknologi canggih, peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan manusia akan keterbatasan ilmu pengetahuan.

Kemajuan teknologi seharusnya:

  • Menguatkan rasa kagum kepada kebesaran Allah

  • Digunakan untuk kebaikan, bukan kerusakan

  • Menjadi sarana ibadah dan kemaslahatan

Dengan demikian, kehidupan modern yang berbasis teknologi tetap dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai tauhid.

3. Keteguhan di Tengah Ujian Hidup

Isra’ Mi’raj terjadi setelah Rasulullah ﷺ mengalami masa paling berat, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan). Ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang setelah kesabaran.

Dalam kehidupan modern:

  • Tekanan ekonomi

  • Masalah keluarga

  • Krisis identitas dan mental

Sering kali membuat manusia merasa lelah dan putus asa. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa setiap kesulitan memiliki jalan naik, asalkan manusia tetap bersabar dan bergantung kepada Allah.

4. Spiritualitas yang Membentuk Akhlak Sosial

Mi’raj bukanlah pelarian dari dunia, melainkan penguatan spiritual untuk kembali ke bumi dan memperbaiki kehidupan sosial. Rasulullah ﷺ kembali membawa amanah shalat untuk membangun umat yang berakhlak.

Di era modern, nilai Isra’ Mi’raj relevan dalam:

  • Menjaga kejujuran di tengah budaya manipulasi

  • Menegakkan keadilan di tengah ketimpangan sosial

  • Menumbuhkan empati di tengah individualisme

Spiritualitas sejati tercermin dalam perilaku dan kontribusi sosial, bukan hanya ritual pribadi.

5. Masjid sebagai Pusat Peradaban, Bukan Sekadar Simbol

Isra’ Mi’raj menghubungkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, menegaskan peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan peradaban. Dalam konteks modern, masjid seharusnya menjadi:

  • Pusat pembinaan umat

  • Ruang dialog dan solusi sosial

  • Tempat penguatan moral generasi muda

Masjid yang hidup akan melahirkan masyarakat yang beradab dan berdaya.

Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa historis yang diperingati setiap tahun, tetapi pedoman hidup sepanjang zaman. Di tengah modernitas yang kerap mengeringkan ruhani, Isra’ Mi’raj mengajak manusia untuk naik secara spiritual tanpa meninggalkan tanggung jawab duniawi.

Dengan menjadikan shalat sebagai fondasi, iman sebagai cahaya, dan akhlak sebagai arah, kehidupan modern dapat dijalani dengan makna, keseimbangan, dan keberkahan.