Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Tawakal yang Sebenarnya

Tawakal adalah salah satu puncak ibadah hati dalam Islam. Banyak orang mengaku bertawakal, tetapi tidak sedikit pula yang keliru memahaminya. Ada yang mengira tawakal berarti pasrah tanpa usaha. Ada pula yang merasa sudah bekerja keras, namun hatinya tetap gelisah dan penuh kecemasan.

Lalu, apa sebenarnya hakikat tawakal?

Tawakal Bukan Sekadar Pasrah

Secara bahasa, tawakal berarti menyerahkan dan mempercayakan. Dalam istilah syariat, tawakal adalah menyerahkan seluruh urusan kepada Allah ﷻ setelah melakukan ikhtiar secara maksimal.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa tawakal adalah sebab datangnya pertolongan dan kecukupan dari Allah. Namun, ayat tersebut tidak pernah memerintahkan kita untuk meninggalkan usaha.

Tawakal Menurut Imam Al-Ghazali

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, tawakal adalah keadaan hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada sebab-sebab lahiriah.

Beliau menjelaskan bahwa orang yang bertawakal tetap melakukan sebab (ikhtiar), tetapi hatinya tidak bergantung pada sebab tersebut. Ia sadar bahwa sebab hanyalah perantara, sedangkan yang menentukan hasil adalah Allah semata.

Inilah keseimbangan antara usaha dan keimanan.

Teladan Tawakal Rasulullah ﷺ

Jika tawakal berarti tanpa usaha, tentu Rasulullah ﷺ akan menjadi orang pertama yang hanya berdiam diri. Namun faktanya, dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau merencanakan segala sesuatu dengan sangat matang.

Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, beliau bersembunyi di Gua Tsur, menyusun strategi perjalanan, dan memilih waktu yang tepat agar tidak diketahui musuh. Meski demikian, ketika berada dalam kondisi genting, beliau berkata kepada sahabatnya:

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)

Di sinilah tampak hakikat tawakal: usaha maksimal, hati tetap tenang.

Ciri-Ciri Tawakal yang Benar

Berikut beberapa tanda seseorang telah memahami tawakal dengan benar:

1. Tetap Berikhtiar dengan Sungguh-Sungguh

Ia bekerja, belajar, dan berusaha sebaik mungkin. Ia tidak malas dengan alasan “sudah takdir”.

2. Hati Tenang Setelah Berusaha

Setelah melakukan yang terbaik, ia tidak diliputi kecemasan berlebihan. Ia percaya bahwa apa pun hasilnya adalah yang terbaik dari Allah.

3. Tidak Sombong Saat Berhasil

Ia sadar keberhasilan bukan semata-mata hasil kecerdasannya, tetapi karena pertolongan Allah.

4. Tidak Putus Asa Saat Gagal

Ia memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari rencana Allah yang penuh hikmah.

Tawakal dan Rezeki

Banyak orang cemas tentang rezeki. Padahal Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Perhatikan, burung tidak tinggal diam di sarangnya. Ia tetap terbang, mencari makan. Inilah simbol keseimbangan antara usaha dan tawakal.

Tawakal Bukan Alasan untuk Lalai

Sebagian orang berkata, “Saya pasrah saja kepada Allah,” tetapi ia tidak mau belajar, tidak mau bekerja, dan tidak mau memperbaiki diri. Ini bukan tawakal, melainkan kemalasan yang dibungkus dalih agama.

Dalam Islam, tawakal selalu berdampingan dengan usaha. Bahkan dalam banyak ayat, Allah memerintahkan kita untuk berusaha terlebih dahulu, kemudian bertawakal.

Allah ﷻ berfirman:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 159)

Perhatikan urutannya: membulatkan tekad dulu, lalu bertawakal.

Hakikat Tawakal: Melepaskan Kegelisahan

Hakikat tawakal yang sebenarnya bukan hanya pada tindakan, tetapi pada kondisi hati. Orang yang bertawakal:

  • Tidak dikuasai rasa takut berlebihan terhadap masa depan

  • Tidak hancur oleh kegagalan

  • Tidak terlalu bergantung pada manusia

  • Tidak menjadikan materi sebagai sumber keamanan

Ia sadar bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Ketika hati telah benar-benar bertawakal, hidup terasa lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena keyakinan kepada Allah lebih besar daripada ketakutan terhadap masalah.

Tawakal dan Kekuatan Spiritual

Tawakal melahirkan keberanian. Orang yang bertawakal tidak takut kehilangan jabatan, harta, atau pujian manusia. Ia hanya takut kehilangan ridha Allah.

Inilah kekuatan para nabi, para sahabat, dan orang-orang saleh. Mereka berani melangkah karena yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Penutup

Hakikat tawakal yang sebenarnya adalah keseimbangan antara usaha maksimal dan penyerahan total kepada Allah. Bukan pasrah tanpa ikhtiar, dan bukan pula bergantung pada usaha semata.

Berusahalah sekuat tenaga seolah-olah segalanya bergantung pada kerja kita.
Namun bersandarlah sepenuhnya kepada Allah seolah-olah segalanya hanya bergantung pada-Nya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang benar dalam bertawakal, sehingga hidup kita penuh ketenangan, keberkahan, dan keyakinan.

Aamiin.